Tuesday, June 5, 2007

Sistem pendukung standar WiMAX : Sistem Antena Adaptif

Sistem antena ini kadang2 juga disebut sebagi Smart Antenna. Kenapa disebut smart, karena antena ini bisa secara cerdas menghasilkan beam atau arah radiasi yang sesuai ke arah user (MS) yang diinginkan serta menghilangkan sinyal-sinyal interferer.


Sistem antena adaptif terdiri dariyang namanya array antenna, atau susunan antena. Dari namanya aja keliatan kalo sistem ini terdiri dari lebih dari satu buah elemen antena. Kemudian masing-masing elemen akan dicatu oleh catuan independen dengan amplitude dan fasa yang berbeda2, sehingga dari hasil "penjumlahan" sinyal radiasi masing2 elemen, dihasilkan pola beam yang diinginkan. Yaitu mengarah ke MS tujuan.

Amplitude dan fasa yang berubah2 sesuai lingkunagn dapat dimungkinkan berkat adanya DSP yang menyertai sistem antena ini (makanya disebut smart). Nantinya pada DSP akan ditanamkan algoritma pembobotan (weighting) yang akan menentukan amplitude dan fasa masing2 elemen antena tadi. Algoritma yang gw tau seperti LMS-CMA, eigenbeamforming...trus banyak lagi ...

Sistem ini jelas berbeda dengan antena directional biasa yang hanya menghasilkan pola pancar ke arah sesuai desainnya. Gak bisa berubah2 sesuai kondisi lapangan. Sedangkan pada sistem adaptif, pola pancar berubah2 tergantung kondisi lingkungan.

Tentu saja dengan kemampuan seperti ini, WiMAX dapat menghandle lebih banyak user dari pada sistem antena biasa..

802.16d itu nantinya akan digunakan untuk broadband fixed wireless access (mobilitas terbatas kayak flexy gitu...) kalo 802.16e aplikasinya buat yang mobile BWA

Karena keduanya mendukung mobilitas, maka kondisi NLOS merupakan suatu konsekuensi dari mobilitas tersebut. So...teknologi2 diatas ada di standar 802.16d ato 802.16e.

untuk WiMAX, ntar ada dua jenis BS yang diproduksi, yaitu standar BS dan full featured BS. Kalo standar BS punya kemampuan yang bersifar mandatory (ya...biasa aj..) dengan batasan keluaran RF (Radio Frequency) power yang telah ditentukan. Sedangkan full featured BS sudah dilengkapi dengan kemampuan opsional tadi... kayak Tx/Rx diversity, sub channelization, ama ARQ.

mengenai mungkin ato nggaknya menggunakan metode modulasi & tipe antena yang sama dg fix? (maksudnya yang mobile..?)
justru... skema modulasi adaptif itu di ciptakan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kondisi lingkungan yang berubah-ubah (yang di wakili dengan nilai SNR) karena mobilitas user. So buat yang mobile skema modulasi adaptif ini merupakan faktor perbaikan yang kudu di pasang.

kalo masalah antenanya...gw pikir modulasi yang digunakan apa aj nggak ngaruh ama antena yang di gunain...kan udah beda level...
Yang beda cuman di level mod/demod aja..

sampai sekarang telkomsel pun belom memakai WiMAX, cuman di BS memang benar kalau telkomsel sudah memakai produk NOKIA yang bisa langsung upgrade ke WiMAX, tinggal nambah modul tersendiri aja...

alokasi pita frekuensi eksisting di Indo yang sudah di alokasikan buat layanan BWA (sesuai dengan rekomendasi WiMAX forum :

- pita frekuensi 2.0 GHz (2050 - 2070 MHz)
- pita frekuensi 2.4 GHz (2400 - 2483.5 MHz)
- pita frekuensi 2.5 GHz (2500 - 2520 MHz ama 2670 - 2690MHz)
- pita frekuensi 3.3 GHz (3300 - 3400 MHz)
- pita frekuensi 3.5 GHz (3400 - 3700 MHz)
- pita frekuensi 5.8 GHz (5725 - 5825 MHz)
- pita frekuensi 10.5 GHz (10150 - 10300 MHz ama 10500 - 10650 MHz)


> spektrum 2.5 GHz:
pada pita frekuensi 2500-2690 MHz masih teknologi microwave link lama di beberapa lokasi tertentu, sejak tahun 1980an (Rec. ITU-R F.283). Sedangkan pita frekuensi 2520-2670 MHz digunakan untuk sistem komunikasi satelit penyiaran digital oleh Indovision kalo ga salah..(cakupan Nasional sejak 1997). Tahun 2001 telah dialokasikan untuk beberapa penyelenggara BWA di pita frekuensi 2500 - 2520 MHz dan 2670-2690 MHz. BW yang di alokasikan sebesar 2x20 MHz dengan lebar kanal 6 MHz.
oh ya ga lupa spektrum IMT 2000 juga memiliki pita tambahan di daerah spektrum ini...

> spektrum 3.5 GHz:
tahun 2000, 3.5 GHz ini ditetapkan untuk layanan BWA dan sharing frekuensi dengan satelit. Di kota-kota, BWA diberlakukan status skunder, sedangkan di non perkotaan berstatus primer. Ijin sejumlah penyelenggara BWA diberikan pada alokasi 3410-3497.5 MHz dan 3510-3597.5 MHz (FDD). Penyelenggara satelit, yang masih menggunakan ext.C band sampai sekarang adlaah Telkom, PSN ama AceS. teru karena ada keluhan dari para operator satelit tentang gangguan interferensi, maka di sepakati melalui forum koordinasi antar operator BWS dan Satelit bahwa BWA hanya dapat menggunakan 5 kanal, dari semula direncakan 25 kanal, status primer dan sekunder masih tetap diberlakukan.

> spektrum 5.8 GHz
Pita frekuensi 5.8 GHz (5725 - 5825 MHz) di Indo masi bersifat licensed, dan pada 2001 telah diberikan kepada sejumlah penyelenggara BWA sebanyak 5 kanal dengan lebar per kanal 15 MHz. Teknologi yang digunakan adalah spread spectrum dengan teknik TDD, dan penggunaannya dilakukan secara bersama (sharing)...ada Kep dirjen yang ngatur...
pada frekuensi 5.8 GHz juga merupakan salahs atu pita frekuensi Wi-Fi di beberapa negara.

melihat kondisi itu semua tergantung kita mau make frekuensi yang mana...
kalo di Indo, rencananya mau pake 3.5 GHz untuk tahap awal implementasi di Indo.
karena test interoperability oleh WiMAX forum dilakukan pada frekuensi 3.5 GHz. Secara komersil, produksi penerapan WiMAX akan dimulai dari frekuensi ini.


Standart 802.16d biasanya digunakan untuk rural area.
Sedangkan di Urban memakai standart 802.16e yang mobilitasnya tinggi.

No comments: