Thursday, June 14, 2007

konsep VPN

Perpaduan teknologi tunneling dan enkripsi membuat VPN (Virtual Private Network) menjadi teknologi yang luar biasa dan membantu banyak sekali pekerjaan penggunanya.
Pada edisi sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai apa itu teknologi VPN, di mana penggunaannya dan apa saja teknologi yang membentuknya. Kini akan dibahas satu per satu lebih mendetail tentang teknologi pembentuk VPN tersebut, yaitu tunneling dan enkripsi.

















Kedua teknologi ini tidak bisa ditawar dan diganggu-gugat lagi dalam membentuk sebuah komunikasi VPN. Kedua teknologi ini harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang sempurna, yaitu komunikasi data aman dan efisien. Aman berarti data Anda tetap terjaga kerahasiaan dan keutuhannya. Tidak sembarang pihak dapat menangkap dan membaca data Anda, meskipun data tersebut lalu-lalang di jalur komunikasi publik. Keutuhan yang tetap terjaga maksudnya tidak sembarang orang dapat mengacaukan isi dan alur data Anda. Hal ini perlu dijaga karena jika sudah lewat jalur publik, banyak sekali orang iseng
yang mungkin saja menghancurkan data Anda di tengah jalan. Untuk itulah, mengapa kedua teknologi ini sangat berperan penting dalam terbentuknya solusi komunikasi VPN.
Apa Saja Teknologi Tunneling ?
Untuk membuat sebuah tunnel, diperlukan sebuah protokol pengaturnya sehingga tunnel secara logika ini dapat berjalan dengan baik bagaikan koneksi point-to-point sungguhan. Saat ini, tersedia banyak sekali protokol pembuat tunnel yang bisa digunakan. Namun, tunneling protocol yang paling umum dan paling banyak digunakan terdiri dari tiga jenis di bawah ini:

*Layer 2 Tunneling Protocol (L2TP)
L2TP adalah sebuah tunneling protocol yang memadukan dan mengombinasikan dua buah tunneling protocol yang bersifat proprietary, yaitu L2F (Layer 2 Forwarding) milik Cisco Systems dengan PPTP (Point-to-Point Tunneling Protocol) milik Microsoft.
Pada awalnya, semua produk Cisco menggunakan L2F untuk mengurus tunneling-nya, sedangkan operating system Microsoft yang terdahulu hanya menggunakan PPTP untuk melayani penggunanya yang ingin bermain dengan tunnel. Namun saat ini, Microsoft Windows NT/2000 telah dapat menggunakan PPTP atau L2TP dalam teknologi VPN-nya.
L2TP biasanya digunakan dalam membuat Virtual Private Dial Network (VPDN) yang dapat bekerja membawa semua jenis protokol komunikasi didalamnya. Selain itu, L2TP juga bersifat media independen karena dapat bekerja di atas media apapun. L2TP memungkinkan penggunanya untuk tetap dapat terkoneksi dengan jaringan lokal milik mereka dengan policy keamanan yang sama dan dari manapun mereka berada, melalui koneksi VPN atau VPDN. Koneksi ini sering kali dianggap sebagai sarana memperpanjang jaringan lokal milik penggunanya, namun melalui media publik.
Namun, teknologi tunneling ini tidak memiliki mekanisme untuk menyediakan fasilitas enkripsi karena memang benar-benar murni hanya membentuk jaringan tunnel. Selain itu, apa yang lalu-lalang di dalam tunnel ini dapat ditangkap dan dimonitor dengan menggunakan protocol analizer.

* Generic Routing Encapsulation (GRE)
Protokol tunneling yang satu ini memiliki kemampuan membawa lebih dari satu jenis protokol pengalamatan komunikasi. Bukan hanya paket beralamat IP saja yang dapat dibawanya, melainkan banyak paket protokol lain seperti CNLP, IPX, dan banyak lagi. Namun, semua itu dibungkus atau dienkapsulasi menjadi sebuah paket yang bersistem pengalamatan IP. Kemudian paket tersebut didistribusikan melalui sistem tunnel yang juga bekerja di atas protokol komunikasi IP.

Dengan menggunakan tunneling GRE, router yang ada pada ujung-ujung tunnel melakukan enkapsulasi paket-paket protokol lain di dalam header dari protokol IP. Hal ini akan membuat paket-paket tadi dapat dibawa ke manapun dengan cara dan metode yang terdapat pada teknologi IP. Dengan adanya kemampuan ini, maka protokol-protokol yang dibawa oleh paket IP tersebut dapat lebih bebas bergerak ke manapun lokasi yang dituju, asalkan terjangkau secara pengalamatan IP.

Aplikasi yang cukup banyak menggunakan bantuan protokol tunneling ini adalah menggabungkan jaringan-jaringan lokal yang terpisah secara jarak kembali dapat berkomunikasi. Atau dengan kata lain, GRP banyak digunakan untuk memperpanjang dan mengekspansi jaringan lokal yang dimiliki si penggunanya. Meski cukup banyak digunakan, GRE juga tidak menyediakan sistem enkripsi data yang lalu-lalang di tunnel-nya, sehingga semua aktivitas datanya dapat dimonitor menggunakan protocol analyzer biasa saja.


*IP Security Protocol (IPSec)
IPSec adalah sebuat pilihan tunneling protocol yang sangat tepat untuk digunakan dalam VPN level korporat. IPSec merupakan protokol yang bersifat open standar yang dapat menyediakan keamanan data, keutuhan data, dan autentikasi data antara kedua peer yang berpartisipasi di dalamnya.

IPSec menyediakan sistem keamanan data seperti ini dengan menggunakan sebuah metode pengaman yang bernama Internet Key Exchange (IKE). IKE ini bertugas untuk menangani masalah negosiasi dari protokol-protokol dan algoritma pengamanan yang diciptakan berdasarkan dari policy yang diterapkan pada jaringan si pengguna. IKE pada akhirnya akan menghasilkan sebuah sistem enkripsi dan kunci pengamannya yang akan digunakan untuk autentikasi pada sistem IPSec ini.


Bagaimana dengan Teknologi Enkripsinya?

Selain teknologi tunneling, teknologi enkripsi dalam VPN juga sangat bervariasi. Sebenarnya teknologi enkripsi bukan hanya milik VPN saja, namun sangat luas penggunaannya. Enkripsi bertugas untuk menjaga privasi dan kerahasiaan data agar tidak dapat dengan mudah dibaca oleh pihak yang tidak berhak. Secara garis besar teknik enkripsi terbagi atas dua jenis, yaitu:


Symmetric Encryption

Symmetric Encryption dikenal juga dengan nama sebutan secret key encryption. Enkripsi jenis ini banyak digunakan dalam proses enkripsi data dalam volume yang besar. Selama masa komunikasi data, perangkat jaringan yang memiliki kemampuan enkripsi jenis ini akan mengubah data yang berupa teks murni (cleartext) menjadi berbentuk teks yang telah diacak atau istilahnya adalah ciphertext. Teks acak ini tentu dibuat dengan menggunakan algoritma. Teks acak ini sangat tidak mudah untuk dibaca, sehingga keamanan data Anda terjaga.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana data acak tersebut dibuka oleh pihak yang memang ditujunya? Untuk membuka data acak ini, algoritma pengacak tadi juga membuat sebuah kunci yang dapat membuka semua isi aslinya. Kunci ini dimiliki oleh si pengirim maupun si penerima data. Kunci inilah yang akan digunakan dalam proses enkripsi dan dekripsi ciphertext ini.
Digital Encryption Standar (DES) merupakan sebuah algoritma standar yang digunakan untuk membuat proses symmetric encryption ini. Algoritma ini diklaim sebagai yang paling umum digunakan saat ini. Algoritma DES beroperasi dalam satuan 64-bit blok data. Maksudnya, algoritma ini akan menjalankan serangkaian proses pengacakan 64-bit data yang masuk untuk kemudian dikeluarkan menjadi 64-bit data acak. Proses tersebut menggunakan 64-bit kunci di mana 56-bit-nya dipilih secara acak, 8 bit nya berasal dari parity bit dari data Anda. Kedelapan bit tersebut diselipkan di antara ke 56-bit tadi. Kunci yang dihasilkan kemudian dikirimkan ke si penerima data.

Dengan sistem enkripsi demikian, DES tidaklah mudah untuk ditaklukkan Namun seiring perkembangan teknologi, DES sudah bisa dibongkar dengan menggunakan superkomputer dalam waktu beberapa hari saja. Alternatif untuk DES adalah triple DES (3DES) yang melakukan proses dalam DES sebanyak tiga kali. Jadi kunci yang dihasilkan dan dibutuhkan untuk membuka enkripsi adalah sebanyak tiga buah.


Asymmetric Encryption

Enkripsi jenis ini sering disebut sebagai sistem public key encryption. Proses enkripsi jenis ini bisa menggunakan algoritma apa saja, namun hasil enkripsi dari algoritma ini akan berfungsi sebagai pelengkap dalam mengacakan dan penyusunan data. Dalam enkripsi jenis ini diperlukan dua buah kunci pengaman yang berbeda, namun saling berkaitan dalam proses algoritmanya. Kedua kunci pengaman ini sering disebut dengan istilah Public Key dan Private Key.
Sebagai contohnya, Andi dan Budi ingin berkomunikasi aman dengan menggunakan sistem enkripsi ini. Untuk itu, keduanya harus memiliki public key dan private key terlebih dahulu. Andi harus memiliki public dan private key, begitu juga dengan Budi. Ketika proses komunikasi dimulai, mereka akan menggunakan kunci-kunci yang berbeda untuk mengenkrip dan mendekrip data. Kunci boleh berbeda, namun data dapat dihantarkan dengan mulus berkat algoritma yang sama.

Mekanisme pembuatan public dan private key ini cukup kompleks. Biasanya key-key ini di-generate menggunakan generator yang menjalankan algoritma RSA (Ron Rivest, Adi Shamir, Leonard Adleman) atau EL Gamal. Hasil dari generator ini biasanya adalah dua buah susunan angka acak yang sangat besar. Satu angka acak berfungsi sebagai public key dan satu lagi untuk private key. Angka-angka acak ini memang harus dibuat sebanyak dan seacak mungkin untuk memperkuat keunikan dari key-key Anda.
Menggenerasi key-key ini sangat membutuhkan proses CPU yang tinggi. Maka itu, proses ini tidak bisa dilakukan setiap kali Anda melakukan transaksi data. Dengan kata lain, enkripsi jenis ini tidak pernah digunakan untuk mengamankan data yang sesungguhnya karena sifatnya yang kompleks ini. Meskipun demikian, enkripsi ini akan sangat efektif dalam proses autentikasi data dan aplikasinya yang melibatkan sistem digital signature dan key management.
Bagaimana Memilih Teknologi VPN yang Tepat?
Teknologi VPN begitu banyak pilihannya untuk Anda gunakan. Bagaimana memilih yang terbaik untuk Anda? Teknologi VPN yang terbaik untuk Anda sangat tergantung pada kebutuhan traffic data yang ingin lalu-lalang diatasnya.

Teknologi IPSec merupakan pilihan utama dan yang paling komplit untuk memberikan solusi bagi jaringan VPN level enterprise. Namun sayangnya, IPSec hanya mendukung traffic yang berbasiskan teknologi IP dan paket-paket yang berkarakteristik unicast saja. Jadi jika karakteristik data Anda yang ingin dilewatkan VPN sesuai dengan kemampuan IPSec, maka tidak perlu lagi menggunakannya karena IPSec relatif lebih mudah dikonfigurasi dan di-troubleshoot. Namun jika traffic Anda terdiri dari protokol-protokol selain IP atau komunikasi IP berkarakteristik multicast, maka gunakanlah GRE atau L2TP.

GRE sangat cocok digunakan jika Anda ingin membuat komunikasi site-to-site VPN yang akan dilewati oleh berbagai macam protokol komunikasi. Selain itu, GRE juga sangat cocok digunakan dalam melewati paket-paket IP multicast seperti yang banyak digunakan dalam routing protocol. Sehingga cocok digunakan sebagai jalur komunikasi antar-router. GRE akan mengenkapsulasi segala traffic tanpa peduli sumber dan tujuannya.

Untuk jaringan yang banyak dilalui oleh traffic untuk keperluan Microsoft networking, L2TP sangat pas untuk digunakan di sini. Karena hubungannya yang erat dengan protokol PPP, L2TP juga sangat cocok digunakan dalam membangun remote-access VPN yang membutuhkan dukungan multiprotokol.

Namun yang menjadi kendala adalah baik GRE maupun L2TP tidak ada yang memiliki sistem enkripsi dan penjaga keutuhan data. Maka dari itu, biasanya dalam implementasi kedua teknologi VPN ini digabungkan penggunaannya dengan IPSec untuk mendapatkan fasilitas enkripsi dan mekanisme penjaga integritas datanya.
Aman dan Nyaman

VPN memang terbentuk dari perpaduan kedua teknologi yang telah dijabarkan secara garis besar di atas. Ada sebuah prinsip yang berkembang di kalangan praktisi komunikasi data yang mengatakan bahwa “komunikasi data yang aman tidak akan pernah nyaman”. Prinsip tersebut mungkin ada kalanya benar, di mana Anda harus membuat policy-policy yang memusingkan kepala, teknik-teknik tunneling dan enkripsi apa yang akan Anda gunakan, dan rule-rule yang sangat ketat dan teliti untuk menghadang semua pengacau yang tidak berhak mengakses data Anda. Namun, teknologi VPN mungkin bisa dikecualikan dalam prinsip tersebut.
Memang benar, performa jaringan VPN tidak akan bisa sebaik jaringan pribadi yang sesungguhnya. Waktu latensi yang besar pasti menyertai ke manapun VPN pergi. Selain itu, jaringan ini sangat sensitif terhadap gangguan yang terjadi di tengah jalan entah di mana. Namun, semua risiko tersebut masih mungkin diterima karena jika sudah terkoneksi, kenyamanan luar biasa bisa Anda nikmati. Lebih dari itu, bagi Anda praktisi bisnis, banyak sekali aplikasi bisnis yang bisa dibuat dengan menggunakan VPN. Selamat belajar!


Thursday, June 7, 2007

Konsep CDMA

Konsep CDMA

seperti artikel artikel sebelumnya mengenai GSM, WIMAX, Spread spektrum, kini akan mengulas mengenai konsep cdma, CDMA yang artinya Code Division Multiple Access mengalihkan perhatian pada awal abad 21. Dia akan mengganti teknologi analog contoh AMPS dan kompetitornya seperti GSM. Pada saat bersamaan B-CDMA yang merupakan model komunikasi baru yang efisien akan berkembang ke arah PCS dan menjadi pilihan umum untuk WLL di dunia. roadband CDMA sepenuhnya layak untuk diaplikasikan di WLL, PCS dan wireless berbasis satelit yang akan datang.

Pada versi yang akan datang dari CDMA akan menyediakan servis-servis dengan bandwidth data yang tinggi (termasuk ISDN, video dan multimedia) yang tidak dapat disediakan oleh teknologi narrowband.

Konsep Dasar Perencanaan
Filosofi umum dari desain jaringan telekomunikasi adalah mendapatkan performansi terbaik dengan biaya implementasi yang minimal. Performansi radio meliputi kualitas kanal kontrol / signalling dan juga kanal suara. Dalam kaitan ini, ukuran dari kualitas transmisi adalah S/(I + N) atau biasa disebut RF signal to impairement ratio. Seorang engineer harus menganalisa S/(I + N) untuk dua kondisi, yang pertama pada kondisi S/(I + N) yang terburuk , sedangkan yang kedua pada kondisi S/(I + N) rata-rata yang dicapai oleh jaringan yang didesain. Dalam hal ini, kondisi performansi rata-rata akan menunjukkan ukuran persepsi pelanggan mengenai kualitas yang akhirnya bermuara pada kepuasan pelanggan. Sedangkan analisa terburuk adalah untuk mencegah berbagai kondisi terburuk yang mungkin saja terjadi.
Memanglah sulit untuk mencapai performansi yang diharapkan pada lingkungan komunikasi mobile yang sangat kompleks. Oleh karena itu seorang engineer diharapkan memiliki berbagai pengetahuan untuk melakukan optimalisasi sistem yang nantinya akan melibatkan berbagai solusi kompromi dari berbagai kondisi trade off yang nantinya akan dihadapi.

Sistem CDMA2000 1x

Definisi Teknik Multiple Access
Code Division Multiple Access (CDMA) merupakan salah satu teknik multiple access yang banyak diaplikasikan untuk seluler maupun fixed wireless. Konsep dasar dari teknik multiple access yaitu memungkinkan suatu titik dapat diakses oleh beberapa titik yang saling berjauhan dengan tidak saling mengganggu. Teknik multiple access mempunyai arti bagaimana suatu spektrum radio dibagi menjadi kanal-kanal dan bagaimana kanal-kanal tersebut dialokasikan untuk pelanggan sebanyak-banyaknya dalam satu sistem.

CDMA merupakan teknologi multiple access yang membedakan satu pengguna dengan pengguna lainnya menggunakan kode-kode khusus dalam lebar pita frekuensi yang ditentukan. Sistem CDMA merupakan pengembangan dari dua sistem multiple access sebelumnya. CDMA memiliki konsep multiple access yang berbeda dengan Time Division Multiple Access (TDMA) dan Frequency Division Multiple Access (FDMA) karena sistem ini memanfaatkan kode-kode digital yang spesifik untuk membedakan satu pengguna dengan pengguna lainnya.
CDMA memiliki beberapa keunggulan dibandingkan teknik multiple access lainnya, yaitu :
1. Memiliki pengaruh interferensi yang kecil antara sinyal yang satu dengan yang lainnya.
2. Memiliki tingkat kerahasiaan yang tinggi dimana hal ini berkaitan dengan proses acak pada teknik ini.

Konsep Dasar Sistem Spektral Tersebar
Code Division Multiple Access adalah teknik akses jamak yang didasarkan pada sistem komunikasi spektral tersebar, dimana masing-masing pengguna diberikan suatu kode tertentu yang akan membedakan satu pengguna dengan pengguna lainnya. Mulanya sistem ini dikembangkan pada kalangan militer karena kehandalannya dalam melawan derau yang tinggi, sifat anti jamming, dan kerahasiaan data yang tinggi.

Definisi Sistem Spektral Tersebar
Secara definitif, sistem komunikasi spektral tersebar merupakan suatu teknik modulasi dimana pengirim sinyal menduduki lebar pita frekuensi yang jauh lebih besar dari pada spektrum minimal yang dibutuhkan untuk menyalurkan suatu informasi. Konsep ini didasarkan pada teori C.E Shannon untuk kapasitas saluran, yaitu :
C = W log2 (1 + S/N)
Dimana : C = kapasitas kanal transmisi (bps)
W = lebar pita frekuensi transmisi (Hz)
N = daya derau (Watt)
S = daya sinyal (Watt)

Dari teori diatas terlihat bahwa untuk menyalurkan informasi yang lebih besar pada saluran ber-noise dapat ditempuh dengan dua cara yaitu :
1. Dengan cara konvensional, dimana W kecil dan S/N besar.
2. Cara penyebaran spektrum, dimana W besar dan S/N kecil.
Pada sistem spektral tersebar sinyal informasi disebar pada pita frekuensi yang jauh lebih lebar dari pada lebar pita informasinya. Penyebaran ini dilakukan oleh suatu fungsi penebar yang bebas terhadap sinyal informasinya berupa sinyal acak semu (psedorandom) yang memiliki karakteristik spektral mirip derau (noise), disebut pseudorandom noise (PN code).

Ada beberapa teknik modulasi yang dapat digunakan untuk menghasilkan spektrum sinyal tersebar antara lain Direct Sequence Spread Spectrum (DS-SS) dimana sinyal pembawa informasi dikalikan secara langsung dengan sinyal penyebar yang berkecepatan tinggi, Frequency Hopping Spred Spectrum (FH-SS) dimana frekuensi pembawa sinyal informasi berubah-ubah sesuai dengan deretan kode yang diberikan dan akan konstan selama periode tertentu yang disebut T (periode chip). Time Hopping Spread Spectrum (TH-SS) dimana sinyal pembawa informasi tidak dikirimkan secara kontinu tetapi dikirimkan dalam bentuk short burst yang lamanya burst tergantung dari sinyal pengkodeannya, dan hybrid modulation yang merupakan gabungan dari dua atau lebih teknik modulasi di atas yang bertujuan untuk menggabungkan keunggulan masing-masing teknik. Teknik modulasi yang paling banyak dipakai saat ini, termasuk pada sistem CDMA2000 1x, adalah Direct Sequence Spread Spectrrum (DS-SS) karena realisasinya lebih sederhana dibandingkan teknik modulasi lainnya.

Pada DS-SS, sinyal pembawa didemodulasi secara langsung oleh data terkode yang merupakan deretan data yang telah dikodekan dengan deretan kode berkecepatan tinggi yang dibangkitkan oleh suatu Pseudo Random Generator (PRG) dan memiliki karakteristik random semu karena dapat diprediksi dan bersifat periodik. Sinyal yang telah tersebar ini kemudian dimodulasi dengan menggunakan teknik modulasi BPSK, QPSK, atau MSK. Pada sistem CDMA2000 1x digunakan teknik modulasi QPSK.

Teknologi Broadband CDMA (B-CDMA)
Teknologi B-CDMA dikembangkan dari teknik CDMA. B-CDMA merupakan teknologi alternatif Wireless Acces pada era Digital Broadband dengan penjelasan sebagai berikut:
• Merupakan teknologi digital spread spektrum lanjutan untuk kepentingan komersial, yang memberikan berbagai kelebihan dibanding copper, cable, microwave dan bahkan sistem komunikasi radio lainnya, seperti :
 kualitas suara yang tinggi (32 kb/s)
 karakteristik fade sangat baik
 performansi indoor sangat baik
 dinamik data rate (on demand) : 32 kb/s ~ 144 kb/s
• Pemilihan frekuensi secara fleksibel (300 ~ 2500 MHz)

CDMA pada dasarnya dikembangkan oleh militer di Amerika dan kemudian dikomersialkan oleh perusahaan di Amerika oleh Qualcomm dan dikembangkan dengan standar IS-95. Tipikal frekuensi operasi untuk IS-95 adalah 800 MHz. Versi Broadband yang baru B-CDMA, akan diterapkan untuk tiga band frekuensi :
• DCS 1800 (1,71 sampai 1,785 Ghz, dan dari 1,805 sampai 1,880 GHz)
• US-PCS (1,85 sampai 1,9 GHz dan 1,93 sampai 1,99 GHz)
• CEPT (2 sampai 2,7 GHz)

Perbedaan penting yang lain dengan narrowband CDMA didesain untuk bandwidth 1,25 MHz untuk setiap direction. Untuk B-CDMA pada umumnya menggunakan bandwidth 7 MHz, 10,5 MHz, 14 MHz dan 15 MHz.

Dengan bandwidth yang lebih lebar akan menyediakan level of fade resistance yang lebih besar, yang akan menghasilkkan performansi yang lebih besar untuk output power yang sama, atau mengurangi syarat power untuk menyediakan range coverage yang sama. Selanjutnya, pertambahan bandwidth sangat identik dengan penambahan kapasitas untuk mendukung layanan-layanan dengan bandwidth yang lebih tinggi dan menambah fleksibilitas untuk service gabungan. Dalam arti bahwa satu sistem broadband dapat melayani berbagai macam service secara simultan.

Aplikasi Broadband CDMA

Broadband CDMA sedang dikembangkan untuk empat aplikasi utama ; rural wireless local loop, urban wireless local loop, personal communications system (PCS), Global Mobile Personal Communcations by Satellite (GMPCS) dan IMT-2000, s

Pasar WLL
Beberapa pengamat percaya bahwa market internasional untuk WLL , secara khusus dari Asia, selama beberapa waktu akan lebih besar daripada untuk cellular atau PCS. Beberapa negara Asia, seperti India mempunyai kurang dari 1 (satu) telepon per 100 (seratus) penduduk dan rata-rata di dunia mencapai 11 atau 12 telepon per 100 penduduk. Perkiraaan untuk waktu dekat bahwa di dunia akan membutuhkan sekitar 1 miliiar telepon dimana setengahnya akan disuplai dari mobile telepon dengan tipe solusi WLL.

Rural WLL
Teknologi broadband CDMA secara khusus pantas untuk area yang sangat sulit atau untuk daerah yang mahal jika diterapkan jaringan kabel. Aplikasi WLL adalah sangat penting untuk negara-negara Asia karena mempunyai penetrasi yang rendah sehingga dapat sebagai pemasangan subscriber yang extra. Sekarang teknologi WLL, khususnya B-CDMA lebih murah diinstal daripada kabel tembaga. Wireless sedang menjadi pilihan teknologi yang ditetapkan pada service fixed telepon yang dikembangkan di dalam area regional Asia dan tempat lainnyya.
Menurut InterDigital, WLL dapat diinstal pada harga di bawah US$ 1.000 per line, dan akan semakiin menurun pada masa yang akan datang.

Urban WLL
Pada daerah urban dan suburban, WLL Broadband CDMA akan menghapuskan atau mengurangi dari pemasangan kabel yang baru.
Broadband CDMA menyediakan generasi yang akan datang untuk teknologi wireless telekomunikasi, dari basik voice melalui 2 Mbps data untuk service mobile dan fix pada residensial, dan lingkungan urban. Sistem juga mampu menyediakan layanan sekualitas wireline seperti voice, fax, ISDN (2B + D) dan service leased line. Broadband CDMA juga mensupport service untuk telepon coin dan telepon smart card.


===================================================================================
o FSU :
FSU (Fixed Subscriber Unit) diletakkan di sisi pelenggan, menyediakan line interface untuk menghubungkan telepon analog dan ISDN. Di samping itu juga mendukung untuk aplikasi POTS dan service yang akan datang, leased line, ISDN dan software download baik outdoor maupun indoor.
o RCS :
RCS (Radio carrier Station) merupakan terminasi air interface pada access radio dan merupakan interface dengan RDU (Radio Distribution Unit) melalui link terestrial.
o RDU
RDU (Radio Distribution Unit) menghubungkan ke lokal exchange melalui interface V5.1. Satu RDU dapat dipakai sampai 4 RCS.
====================================================================================



PCS
PCS akan menyediakan penambahan level mobility dengan service wideband. Teknologi Broadband CDMA mendukung option dengan range yang lebar dari harga yang paling murah per line dan kapasitas yang paling tinggi untuk service yang akan datang.
Broadband CDMA akan menyediakan portabel handset, mirip dengan selular tetapi availabel untuk data rate yang lebih tinggi.
Handset dengan mobilittas yang terbatas biasanya direncanakan sebagai extension untuk sistem WLL broadband CDMA.

GMPCS
Global Mobile Personal Communications by Satelite akan menghubungkan pelanggan-pelanggan anytime, anywhere di bumi lewat hubungan secara langsung lewat Low Earth Orbit (LEO) atau Intermediate Circular Orbit (ICO), tergantung dari sistem yang digunakan. Terminal dual mode dari sistem GSM dan CDMA akan dapat digunakan pada tahun 2000, dimana service-service komersial akan dimulai.

IMT 2000
IMT 2000 dikenal juga dengan istilah FPLMTS (Future Public Land Mobile Telecommunication System). Untuk aplikasi generasi ke 3 ini masih diajukan proposal kepada badan standarisasi : TIA, ETSI dan ARIB (badan standarisasi di Amerika, Eropa dan Jepang) sebagai syarat pada implentasi IMT 2000

Keuntungan CDMA
Sebelum dibahas keuntungan dari penggunaan broadband CDMA maka akan dibahas terlebih dahulu kelebihan metode akses CDMA dengan metode akses lainnya (TDMA dan FDMA). Keunggulan CDMA jika diaplikasikan pada sistem selular adalah :
1. Co-exixt dengan selular CDMA
Dua sistem seluler FDMA dan CDMA dapat beroperasi secara bersama-sama. Perancang selular CDMA dapat memberikan solusi dengan memperkenalkan unit bergerak dual mode FDMA/CDMA pada pelanggan.
2. Tidak membutuhkan equalizer
Bila lajju trannsmisi lebih besar daripada 10 kbps dalam FDMA dan TDMA, sebuah equaliser dibutuhkan untuk mengurangi intersimbol iinterference yang dibutuhkan leh timme delay spread. Dalam CDMA hanya dibutuhkan korelator sebagai penggganti equalizer pada penerima untuk despreading sinyal spread spectrum.
3. Satu radio per site
Hanya satu radio yang dibutuhkan pada tiap sel atau pada tiap sektor.
4. Tidak membutuhkan guard time dan guard band
Guard time dibutuhkan dalam CDMA antara time slot sedangka guard band dibutuhkan pada FDMA untuk menjaga interferensi antar kanal.
5. Tidak membutuhkan alokasi dan pengelolaan frekuensi
Pada TDMA dan FDMA, pengelolaan frekuensi merupakan tugas kritis untuk diselesaikan. Karena hanya terdapat satu kanal radio bersama pada CDMA, tidak ada pengelolaan frekuensi yang dibutuhkkan.
6. Soft capasity
Kapasiats sistem CDMA ditentukan oleh interferensi diri. Dalam usaha untuk mempunyai banyak user berkomunikasi secara suimultan, interferensi cochannel memberikan batasan jumlah user yang aktif secara simultan.
7. Soft handoff
Soft handoff dapat dilakukan dalam CDMA karena setiap sel menggunakan frekuensi yang sama.
8. Proteksi dari penyadapan dan jamming.
Anti sadap dan jamming secara inheren terdapat dalam sistem komunikasi spread spektrum.

Keuntungan utama dari solusi Broadband CDMA adalah flexibilitas. Sistem CDMA menyediakan untuk aplikasi komunikasi pada skala besar dan kecil dengan cost efektif yang diperhitungkan. Untuk bisnis selanjutnya dapat menyediakan service voice dan ISDN data, seperti fax, email dan high speed internet access. Ketika sistem Broadband CDMA dapat ditambah dengan mudah dan cepat ke jaringan existing tanpa delay dan gangguan daripada instalasi kabel telepon. Koneksi ke jaringan LAN untuk email dan sharing resources sperti printer dan mesin fax dapat dikonfigurasi dengan mudah.
Sistem Broadband CDMA dapat memungkinkan operator untuk menawarkan service yang baru seperti ISDN (144 kbps), leased line dan bandwidth on demand (2 Mbps).

Broadband sangat mengurangi efek yang menyebabkan multipath fading, terutama pada kondisi yang sebenarnya, menyebarkan range dari 7 sampai 30 MHz. Dengan bertambahnya bandwidth dapat mengurangi face margin yang diharuskan sampai 3 dB jika diterapkan pada sistem narrowband. Cell station yang baru dan reuse frekuensi pada sistem CDMA dapat ditambahkan tanpa harus memodifikasi parameter-parameter cell yang lain. Dengan penyediaan bandwidth yang lebih besar oleh Broadband CDMA akan mengijinkan lebih dari pemakai per channel, tetapi lebih sedikit cell per geographic area. Dengan demikian akan lebih simpel prosedur manajemen network.

Cell-cell pada Broadband CDMA dapat dengan mudah diaplikasikan di daerah urban, suburban atau rural dimana kepadatan pelanggan berbeda. Broadband CDMA menggunakan teknik pengkodean suara seperti pada jaringan publik (32 ADPCM dan 64 PCM)

Kemungkinan B-CDMA di Indonesia
Jika dipakai sebagai sistem selular maka B-CDMA sudah memasuki generasi ke tiga pada aplikasi IMT 2000 (International mobile telecommunications system). Teknologi ini akan memasuki pasar pada tahun 2000.

Sistem ini berbeda dengan sistem CDMA pita sempit (narrow band) dan sedang dikembangkam di Indonesia oleh PT Komselindo yang kini sebagai operator AMPS (Advance Mobile Phone System). Ia juga berbeda dengan D-AMPS (Digital-AMPS) yang distandarkan pada IS-136. Tetapi DAMPS atau GSM akan dengan mudah migrasi ke B-CDMA.
CDMA pita lebar sedang dicoba pada frekuensi 2 GHz, ia bisa menyediakan layanan internet yang di PT TELKOM disebut dengan PASOPATI dan multimedia .

Percobaan-percobaan yang sudah dilakukan, antara lain oleh NTT DoCoMo dari Jepang yang akan segera menerapkan teknologi W-CDMA (Wideband code division multiple access) pada tahun 2000 di gelombang 5 MHz. W-CDMA merupakan sebutan untuk B-CDMA di Jepang.
Yang menjadi pesaing utama dari B-CDMA adalah teknologi TD-CDMA (Time Diivision-Code Division Multiple Access. Jika TDMA membagi-bagi frekuensi secara vertikal, sementara CDMA membaginya secara horisontal, maka TD-CDMA lebih hemat lagi sebab dapat memotong-motong frekuensi lebih kecil lagi.

Pada pertemuan penyelenggara seluler dan administrator se-Asia Pasifik di forum Asia Pasific Interest Group (APIG), GSM MoU ketujuh belum sepakat terhadap pilihan Wide Band atau Broadband CDMA yang akan menjadi trend teknologi seluler GSM generasi ke tiga pada abad 21 mendatang. Kendati begitu Indonesia merekomendasi WB-CDMA sebagai pilihan ketimbang TD-CDMA yang dianggap futuristic. Apalagi Jepang melalui NTT DoCoMo turut terlibat bersama Ericsson dan Nokia dalam pengembangan sistem WB-CDMA.

Generasi ketiga berupa CDMA pita lebar bukan merupakan generasi seluler yang terakhir. Generasi berikut akan muncul pada dasawarsa pertama abad 21, yang akan lebih canggih dalam menyediakan layanan, dibanding generasi sebelumnya. Yang jelas siklus tiap generasi semakin pendek yang selain menguntungkan pengguna seluler sekaligus juga merugikannya. Keuntungannya, pelanggan bisa mendapatkan apa saja layanan yang diinginkannya, tetapi ruginya barang yang digunakan akan berusia pendek. Kerugiannya lagi jika frekuensi dan operator yang ditunjuk berbeda dengan yang sebelumnya

Wednesday, June 6, 2007

Broadband CDMA

Broadband CDMA : Teknologi Wireless Masa Depan
Banyak industri telekomunikasi sekarang percaya bahwa Code Division Multiple Access (CDMA) spread spektrum akan mengalihkan perhatian pada awal abad 21. Dia akan mengganti teknologi analog contoh AMPS dan kompetitornya seperti GSM.
Pada saat bersamaan B-CDMA yang merupakan model komunikasi baru yang efisien akan berkembang ke arah PCS dan menjadi pilihan umum untuk WLL di dunia.
Broadband CDMA sepenuhnya layak untuk diaplikasikan di WLL, PCS dan wireless berbasis satelit yang akan datang.
Pada versi yang akan datang dari CDMA akan menyediakan servis-servis dengan bandwidth data yang tinggi (termasuk ISDN, video dan multimedia) yang tidak dapat disediakan oleh teknologi narrowband.



Apakah Broadband CDMA?

Standar teknologi CDMA, dilihat dari spread signalnya relative lebih besar dari teknologi selular lainnya, pengurangan problem propagasi (multipath dan fading). Dikenal dua standar untuk aplikasi dengan metode akses CDMA. Standar yang dimaksud adalah IS-95 dan poprietary.

Broadband CDMA mengambil konsep ini lebih lanjut oleh pengurangan multipath-fading, penawaran kapasitas dalam tiap cell dan kualitas suara yang lebih baik. Bandwidth yang luas juga membuat mungkin features ke depan termasuk ISDN dan bandwidth on demand. Broadband CDMA dengan wireless mempunyai potensi untuk menyediakan "transparan" local loop dengan fungsi penuh seperti wireline.

Broadband CDMA sebagai WLL didesain untuk menyediakan layanan fixed dan mobiile yang dikoneksikan dengan PSTN dari layanan POTS (Plain Old Telephone Service) ke features-features selanjutnya seperti ISDN dan bandwidth on demand. Service-service akan termasuk voice, high speed fax, data dan multimedia, termasuk juga video. Teknologi ini memungkinkan aplikasi ISDN ke desktop fixed wiireless dan mobile wireless.

Teknologi Broadband CDMA (B-CDMA)
Teknologi B-CDMA dikembangkan dari teknik CDMA. B-CDMA merupakan teknologi alternatif Wireless Acces pada era Digital Broadband dengan penjelasan sebagai berikut:
• Merupakan teknologi digital spread spektrum lanjutan untuk kepentingan komersial, yang memberikan berbagai kelebihan dibanding copper, cable, microwave dan bahkan sistem komunikasi radio lainnya, seperti :
 kualitas suara yang tinggi (32 kb/s)
 karakteristik fade sangat baik
 performansi indoor sangat baik
 dinamik data rate (on demand) : 32 kb/s ~ 144 kb/s
• Pemilihan frekuensi secara fleksibel (300 ~ 2500 MHz)

CDMA pada dasarnya dikembangkan oleh militer di Amerika dan kemudian dikomersialkan oleh perusahaan di Amerika oleh Qualcomm dan dikembangkan dengan standar IS-95. Tipikal frekuensi operasi untuk IS-95 adalah 800 MHz. Versi Broadband yang baru B-CDMA, akan diterapkan untuk tiga band frekuensi :
• DCS 1800 (1,71 sampai 1,785 Ghz, dan dari 1,805 sampai 1,880 GHz)
• US-PCS (1,85 sampai 1,9 GHz dan 1,93 sampai 1,99 GHz)
• CEPT (2 sampai 2,7 GHz)

Perbedaan penting yang lain dengan narrowband CDMA didesain untuk bandwidth 1,25 MHz untuk setiap direction. Untuk B-CDMA pada umumnya menggunakan bandwidth 7 MHz, 10,5 MHz, 14 MHz dan 15 MHz.

Dengan bandwidth yang lebih lebar akan menyediakan level of fade resistance yang lebih besar, yang akan menghasilkkan performansi yang lebih besar untuk output power yang sama, atau mengurangi syarat power untuk menyediakan range coverage yang sama. Selanjutnya, pertambahan bandwidth sangat identik dengan penambahan kapasitas untuk mendukung layanan-layanan dengan bandwidth yang lebih tinggi dan menambah fleksibilitas untuk service gabungan. Dalam arti bahwa satu sistem broadband dapat melayani berbagai macam service secara simultan.

Aplikasi Broadband CDMA
Broadband CDMA sedang dikembangkan untuk empat aplikasi utama ; rural wireless local loop, urban wireless local loop, personal communications system (PCS), Global Mobile Personal Communcations by Satellite (GMPCS) dan IMT-2000, semua akan digambarkan seperti di bawah ini.


Pasar WLL

Beberapa pengamat percaya bahwa market internasional untuk WLL , secara khusus dari Asia, selama beberapa waktu akan lebih besar daripada untuk cellular atau PCS. Beberapa negara Asia, seperti India mempunyai kurang dari 1 (satu) telepon per 100 (seratus) penduduk dan rata-rata di dunia mencapai 11 atau 12 telepon per 100 penduduk. Perkiraaan untuk waktu dekat bahwa di dunia akan membutuhkan sekitar 1 miliiar telepon dimana setengahnya akan disuplai dari mobile telepon dengan tipe solusi WLL.


Rural WLL

Teknologi broadband CDMA secara khusus pantas untuk area yang sangat sulit atau untuk daerah yang mahal jika diterapkan jaringan kabel. Aplikasi WLL adalah sangat penting untuk negara-negara Asia karena mempunyai penetrasi yang rendah sehingga dapat sebagai pemasangan subscriber yang extra. Sekarang teknologi WLL, khususnya B-CDMA lebih murah diinstal daripada kabel tembaga. Wireless sedang menjadi pilihan teknologi yang ditetapkan pada service fixed telepon yang dikembangkan di dalam area regional Asia dan tempat lainnyya.
Menurut InterDigital, WLL dapat diinstal pada harga di bawah US$ 1.000 per line, dan akan semakiin menurun pada masa yang akan datang.


Urban WLL

Pada daerah urban dan suburban, WLL Broadband CDMA akan menghapuskan atau mengurangi dari pemasangan kabel yang baru.
Broadband CDMA menyediakan generasi yang akan datang untuk teknologi wireless telekomunikasi, dari basik voice melalui 2 Mbps data untuk service mobile dan fix pada residensial, dan lingkungan urban. Sistem juga mampu menyediakan layanan sekualitas wireline seperti voice, fax, ISDN (2B + D) dan service leased line. Broadband CDMA juga mensupport service untuk telepon coin dan telepon smart card.

o FSU :
FSU (Fixed Subscriber Unit) diletakkan di sisi pelenggan, menyediakan line interface untuk menghubungkan telepon analog dan ISDN. Di samping itu juga mendukung untuk aplikasi POTS dan service yang akan datang, leased line, ISDN dan software download baik outdoor maupun indoor.
o RCS :
RCS (Radio carrier Station) merupakan terminasi air interface pada access radio dan merupakan interface dengan RDU (Radio Distribution Unit) melalui link terestrial.
o RDU
RDU (Radio Distribution Unit) menghubungkan ke lokal exchange melalui interface V5.1. Satu RDU dapat dipakai sampai 4 RCS.
PCS
PCS akan menyediakan penambahan level mobility dengan service wideband. Teknologi Broadband CDMA mendukung option dengan range yang lebar dari harga yang paling murah per line dan kapasitas yang paling tinggi untuk service yang akan datang.
Broadband CDMA akan menyediakan portabel handset, mirip dengan selular tetapi availabel untuk data rate yang lebih tinggi.
Handset dengan mobilittas yang terbatas biasanya direncanakan sebagai extension untuk sistem WLL broadband CDMA.


GMPCS

Global Mobile Personal Communications by Satelite akan menghubungkan pelanggan-pelanggan anytime, anywhere di bumi lewat hubungan secara langsung lewat Low Earth Orbit (LEO) atau Intermediate Circular Orbit (ICO), tergantung dari sistem yang digunakan. Terminal dual mode dari sistem GSM dan CDMA akan dapat digunakan pada tahun 2000, dimana service-service komersial akan dimulai.


IMT 2000

IMT 2000 dikenal juga dengan istilah FPLMTS (Future Public Land Mobile Telecommunication System). Untuk aplikasi generasi ke 3 ini masih diajukan proposal kepada badan standarisasi : TIA, ETSI dan ARIB (badan standarisasi di Amerika, Eropa dan Jepang) sebagai syarat pada implentasi IMT 2000.

Keuntungan CDMA
Sebelum dibahas keuntungan dari penggunaan broadband CDMA maka akan dibahas terlebih dahulu kelebihan metode akses CDMA dengan metode akses lainnya (TDMA dan FDMA). Keunggulan CDMA jika diaplikasikan pada sistem selular adalah :
1. Co-exixt dengan selular CDMA
Dua sistem seluler FDMA dan CDMA dapat beroperasi secara bersama-sama. Perancang selular CDMA dapat memberikan solusi dengan memperkenalkan unit bergerak dual mode FDMA/CDMA pada pelanggan.
2. Tidak membutuhkan equalizer
Bila lajju trannsmisi lebih besar daripada 10 kbps dalam FDMA dan TDMA, sebuah equaliser dibutuhkan untuk mengurangi intersimbol iinterference yang dibutuhkan leh timme delay spread. Dalam CDMA hanya dibutuhkan korelator sebagai penggganti equalizer pada penerima untuk despreading sinyal spread spectrum.
3. Satu radio per site
Hanya satu radio yang dibutuhkan pada tiap sel atau pada tiap sektor.
4. Tidak membutuhkan guard time dan guard band
Guard time dibutuhkan dalam CDMA antara time slot sedangka guard band dibutuhkan pada FDMA untuk menjaga interferensi antar kanal.
5. Tidak membutuhkan alokasi dan pengelolaan frekuensi
Pada TDMA dan FDMA, pengelolaan frekuensi merupakan tugas kritis untuk diselesaikan. Karena hanya terdapat satu kanal radio bersama pada CDMA, tidak ada pengelolaan frekuensi yang dibutuhkkan.
6. Soft capasity
Kapasiats sistem CDMA ditentukan oleh interferensi diri. Dalam usaha untuk mempunyai banyak user berkomunikasi secara suimultan, interferensi cochannel memberikan batasan jumlah user yang aktif secara simultan.
7. Soft handoff
Soft handoff dapat dilakukan dalam CDMA karena setiap sel menggunakan frekuensi yang sama.
8. Proteksi dari penyadapan dan jamming.
Anti sadap dan jamming secara inheren terdapat dalam sistem komunikasi spread spektrum.

Keuntungan utama dari solusi Broadband CDMA adalah flexibilitas. Sistem CDMA menyediakan untuk aplikasi komunikasi pada skala besar dan kecil dengan cost efektif yang diperhitungkan. Untuk bisnis selanjutnya dapat menyediakan service voice dan ISDN data, seperti fax, email dan high speed internet access. Ketika sistem Broadband CDMA dapat ditambah dengan mudah dan cepat ke jaringan existing tanpa delay dan gangguan daripada instalasi kabel telepon. Koneksi ke jaringan LAN untuk email dan sharing resources sperti printer dan mesin fax dapat dikonfigurasi dengan mudah.
Sistem Broadband CDMA dapat memungkinkan operator untuk menawarkan service yang baru seperti ISDN (144 kbps), leased line dan bandwidth on demand (2 Mbps).

Broadband sangat mengurangi efek yang menyebabkan multipath fading, terutama pada kondisi yang sebenarnya, menyebarkan range dari 7 sampai 30 MHz. Dengan bertambahnya bandwidth dapat mengurangi face margin yang diharuskan sampai 3 dB jika diterapkan pada sistem narrowband. Cell station yang baru dan reuse frekuensi pada sistem CDMA dapat ditambahkan tanpa harus memodifikasi parameter-parameter cell yang lain. Dengan penyediaan bandwidth yang lebih besar oleh Broadband CDMA akan mengijinkan lebih dari pemakai per channel, tetapi lebih sedikit cell per geographic area. Dengan demikian akan lebih simpel prosedur manajemen network.

Cell-cell pada Broadband CDMA dapat dengan mudah diaplikasikan di daerah urban, suburban atau rural dimana kepadatan pelanggan berbeda. Broadband CDMA menggunakan teknik pengkodean suara seperti pada jaringan publik (32 ADPCM dan 64 PCM)
Kemungkinan B-CDMA di Indonesia
Jika dipakai sebagai sistem selular maka B-CDMA sudah memasuki generasi ke tiga pada aplikasi IMT 2000 (International mobile telecommunications system). Teknologi ini akan memasuki pasar pada tahun 2000.

Sistem ini berbeda dengan sistem CDMA pita sempit (narrow band) dan sedang dikembangkam di Indonesia oleh PT Komselindo yang kini sebagai operator AMPS (Advance Mobile Phone System). Ia juga berbeda dengan D-AMPS (Digital-AMPS) yang distandarkan pada IS-136. Tetapi DAMPS atau GSM akan dengan mudah migrasi ke B-CDMA.
CDMA pita lebar sedang dicoba pada frekuensi 2 GHz, ia bisa menyediakan layanan internet yang di PT TELKOM disebut dengan PASOPATI dan multimedia .

Percobaan-percobaan yang sudah dilakukan, antara lain oleh NTT DoCoMo dari Jepang yang akan segera menerapkan teknologi W-CDMA (Wideband code division multiple access) pada tahun 2000 di gelombang 5 MHz. W-CDMA merupakan sebutan untuk B-CDMA di Jepang.
Yang menjadi pesaing utama dari B-CDMA adalah teknologi TD-CDMA (Time Diivision-Code Division Multiple Access. Jika TDMA membagi-bagi frekuensi secara vertikal, sementara CDMA membaginya secara horisontal, maka TD-CDMA lebih hemat lagi sebab dapat memotong-motong frekuensi lebih kecil lagi.

Pada pertemuan penyelenggara seluler dan administrator se-Asia Pasifik di forum Asia Pasific Interest Group (APIG), GSM MoU ketujuh belum sepakat terhadap pilihan Wide Band atau Broadband CDMA yang akan menjadi trend teknologi seluler GSM generasi ke tiga pada abad 21 mendatang. Kendati begitu Indonesia merekomendasi WB-CDMA sebagai pilihan ketimbang TD-CDMA yang dianggap futuristic. Apalagi Jepang melalui NTT DoCoMo turut terlibat bersama Ericsson dan Nokia dalam pengembangan sistem WB-CDMA.

Generasi ketiga berupa CDMA pita lebar bukan merupakan generasi seluler yang terakhir. Generasi berikut akan muncul pada dasawarsa pertama abad 21, yang akan lebih canggih dalam menyediakan layanan, dibanding generasi sebelumnya. Yang jelas siklus tiap generasi semakin pendek yang selain menguntungkan pengguna seluler sekaligus juga merugikannya. Keuntungannya, pelanggan bisa mendapatkan apa saja layanan yang diinginkannya, tetapi ruginya barang yang digunakan akan berusia pendek. Kerugiannya lagi jika frekuensi dan operator yang ditunjuk berbeda dengan yang sebelumnya

GSM1x, Kompromi antara CDMA2000 dengan GSM

Kehadiran Telkomflexi dari Telkom yang kemudian disusul dengan produk Esia dari Ratelindo dan akan segera menyusul layanan dari Mobile-8 dimana ketiganya berbasis teknologi CDMA 2000—baik itu CDMA 2000-1x maupun CDMA 2000-1x EV-DO —memang sedikit banyak menimbulkan permasalahan pada sisi operator seluler berbasis GSM.
Bagaimana tidak, ketika hampir seluruh operator GSM mulai mengaktifkan layanan GPRS yang mengedepankan layanan ‘always connected’ ke jaringan dan kemampuan mengirim data, suara dan image serta tentunya koneksi ke Internet, ternyata justru kehadiran CDMA menjadi sebuah booming yang lebih heboh dan bahkan sampai sekarang jumlah pelanggan semakin bertambah dengan cepat. Terutama karena layanan ini menjanjikan tarif yang lebih murah.


Pertanyaan yang mengemukan adalah apakah yang akan terjadi pada jaringan GSM yang telah eksis ini? Apakah harus dilakukan set up ulang jaringan yang berarti harus melakukan re-investasi lagi? Apakah mungkin terjadi aliansi antar operator GSM melawan operator CDMA? Atau apakah bisa mengkompromikan antara layanan berbasis GSM dan CDMA?

Salah satu ide yang adalah melakukan konvergensi antar jaringan yang ada, yaitu platform GSM dan CDMA—dalam hal ini CDMA 2000. GSM1x, demikian istilah yang diberikan pada keseluruhan jaringan yang ‘digabung’ tersebut. Kedua jaringan tersebut digabungkan dengan sebuah sistem media yang berfungsi mengkonversi (mengubah) protokol dari masing-masing jaringan.

GSM1x bisa dikatakan sebuah lompatan bagi operator GSM yang ingin menggelar layanan wireless generasi ketiga (3G). GSM1x dikembangkan oleh Qualcomm, perusahaan pemegang lisensi atas teknologi CDMA, dengan memanfaatkan jaringan inti (core networks) GSM sebagai jaringan utamanya, dan memanfaatkan BTS (Base Transceiver Station) dari CDMA 2000-1x sebagai interface ke handset (ponsel) pelanggan. Seperti diketahui bahwa keunggulan GSM adalah dari coverage area yang luas, sementara CDMA justru memiliki coverage area yang lebih sempit, namun unggul pada sisi kapasitas bandwidth yang lebih besar dan efisiensi spektrum frekuensi. Diharapkan dengan begitu, layanan mampu mencakup area yang cukup luas dan mampu mentransfer data lebih besar dan lebih cepat.
Sebenarnya dengan teknoogi GPRS yang telah dimiliki oleh operator GSM—Telkomsel, Satelindo dan Excelcomindo—‘status’ mereka adalah operator generasi dua setengah (2,5G) dan bukan lagi 2G. Dengan adanya layanan GPRS maka pengguna akan merasakan layanan yang selalu terhubung (always connected) meskipun tidak sedang menggunakan layanan GPRS. Oleh karena itu, jika hendak menggelar layanan 3G, ada tiga opsi yang bisa dilakukan:
Pertama, menggelar layanan EDGE (Enhance Data Rate for Global Evolution) yang tetap berbasis jaringan GSM yang telah eksis. EDGE menggunakan struktur kanal, perencanaan frekeuensi, protokol dan coverage area yang sama dengan jaringan GSM yang telah ada. EDGE memberikan perbaikan standar pada interface (antar muka) radio GSM yang akan mampu memberikan data rate lebih tinggi, juga meningkatkan efisiensi pemakaian spektrum untuk layanan data. EDGE mampu melayanai 3 kali lebih banyak dari layanan GPRS, yang berarti menaikkan data rate 3 kali. Dengan begitu, EDGE memberikan layanan yang sama dengan layanan WCDMA, namun dengan kecepatan transfer data yang lebih rendah.

Kedua, menggelar layanan CDMA berbasis GSM yang disebut WCDMA (Wideband CDMA). Permasalahan yang dijumpai tentu terkait dengan investasi yang jauh lebih besar dibandingkan implementasi EDGE. Selain itu, dari perangkat handset yang ada sekarang juga belum ada yang mendukung multi-mode, GSM/GPRS/WCDMA. Ini bisa menjadi satu persoalan tambahan dimana infrastruktur siap, namun terminal belum tersedia.
Ketiga, melakukan konvergensi layanan CDMA dan GSM dengan menggelar layanan GSM1x pada band GSM. Layanan ini berguna bagi pengguna yang membutuhkan roaming GSM-CDMA 2000 maupun tidak. Bagi yang membutuhkan roaming, tentu saja handsetnya berkemampuan dualmode, GSM/CDMA, sementara yang tidak membutuhkan roaming hanya cukup berponsel GSM saja atau CDMA saja.

Untuk penggelaran GSM1x ini perlu dilakukan pembebasan 1,23 MHz rentang frekuensi GSM yang ada untuk digunakan oleh CDMA 2000-1x yang memiliki kemampuan kapasitas data sampai dengan 350 Kbps atau CDMA 2000-1x EV-DO sampai dengan 1.500 Kbps. Cara lain adalah dengan menggunakan frekuensi dimana CDMA 2000-1x dapat beroperasi, misalnya pada frekuensi 800, 900, 1800, 1900, dan 2100 MHz.

Bisa dikatakan bahwa GSM1x akan mengeksploitasi keunggulan masing-masing teknologi—GSM maupun CDMA—dengan menggabungkan kelebihan GSM dalam aplikasi-aplikasi dan coverage areanya dan kelebihan CDMA yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien dalam operasi frekuensinya.

Pilihan ketiga ini memang agaknya cukup feasible bila diterapkan oleh para operator GSM, terutama dilihat dari time-to-market dan biaya investasinya. Time-to-market berarti kapanpun operator GSM akan beralih ke GSM1x maka infrastruktur jaringan maupun terminal (handset) yang mendukung platform GSM dan CDMA sudah mulai tersedia. Salah satunya adalah Samsung Electronics yang menyatakan merilis handset yang mendukung kedua platform tadi. Samsung sendiri memproduksi handset GSM, CDMA 2000 dan bahkan memegang proyek pembangunan jaringan CDMA milik operator baru, Mobile-8.
Biaya investasi berarti bahwa operator GSM yang ingin beralih ke GSM1x dapat melakukan investasi untuk BTS CDMA 2000, dan cukup melakukan penambahan komponen GSM1x mobile switching node tanpa melakukan modifikasi apa pun pada jaringan GSM yang ada.

Pilihan lainnya adalah dengan melakukan penambahan GSM1x global gateway dan melakukan kerja sama dengan operator CDMA yang ada tanpa perlu adanya modifikasi jaringan yang ada, baik GSM maupun CDMA 2000. Dengan begitu ada kemungkinan terwujudnya konvergensi jaringan GSM/GPRS Telkomsel dengan jaringan CDMA Telkom. Atau jaringan GSM/GPRS Satelindo dengan jaringan CDMA Indosat. Secara keseluruhan biaya investasi yang diperlukan relatif kecil karena seluruh komponen jaringan yang ada tetap dapat dipergunakan.

Beberapa ponsel CDMA 2000 yang beredar sekarang juga sudah menggunakan kartu SIM seperti pada GSM, yang pada CDMA 2000 dikenal dengan nama RUIM (Removable User Identity Module). Agaknya hal ini bisa menjadi salah satu pendorong konvergensi menuju GSM1x. Karena slot pada RUIM sama dengan slot pada kartu SIM maka pelanggan dapat saja menggunakan ponsel CDMA 2000-1x yang memiliki slot ini dan memasukan kartu SIM GSM, sehingga dapat digunakan sebagai ponsel GSM1x dengan beberapa software upgrade secara otomatis dari operator GSM atau CDMA saat pertama kali dihidupkan. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya, pongguna GSM juga dapat menggunakan fasilitas CDMA 2000 jika dia berada di wilayah dimana dia terdaftar sebagai subscriber CDMA.
Yang perlu ditunggu adalah hadirnya ponsel yang bukan hanya dual-mode namun juga dual-slot. Dengan begitu pelanggan GSM maupun CDMA tidak perlu repot-repot memasang dan melepas kartunya (SIM atau RUIM) ketika akan berpindah layanan. Cukup dengan mematikan ponsel kemudian menyalakan kembali dan di menu awal ada pilihan karingan yang akan digunakan, GSM atau CDMA. Hebat bukan?
Operator yang telah menerapkan GSM1x adalah China Unicom, salah satu operator terbesar di Cina ini menggelar layanan percobaan untuk melihat performansi dan kemampuan roaming baik CDMA dan GSM dengan GSM1x ini. Selain itu, Vodafone juga melakukan percobaan yang sama pada jaringan GSM/GPRS di Eropa dan CDMA di Amerika. Tampaknya mereka ingin menjajaki roaming antara keduanya tanpa perlu penggantian ponsel.

Patut ditunggu gebrakan dari masing-masing operator—GSM maupun CDMA, dan tentu saja dari pihak pembuat kebijaka (regulator) dalam hal ini Dirjen Postel mengenai kebijakan yang akan diambil dalam ‘menyelamatkan’ bisnis di dunia telekomunikasi seluler ini. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam jangka panjang bisnis GSM akan terancam dengan kahadiran CDMA ini

==================================================================================

subset measurement = pengukuran yang dilakukan di frequency SUB-Band dari system cellular (GSM), sedangkan fullset = pengukuran di full band.
Misalnya di GSM900, dibagi menjadi menjadi 2 SUB BAND: sub band H = Tx Frequency : 942.5 - 960 MHz dan Sub band 935 - 960 MHz, sedangkan fullband nya dari 925 - 960 MHz,
demikian juga dengan GSM 1800, juga dibagi dalam 2 Sub band: A & B


==================================================================================


GSM vs CDMA

SAAT ini masyarakat pengguna telpon seluler mengenal dua kubu besar, yaitu GSM dan CDMA. Keduanya jelas dapat dipakai untuk menelpon, karena memang fungsi utamanya memang itu. Yang agak berbeda adalah fungsi-fungsi tambahannya dan kualitas masing-masing fitur. Lalu bagaimana kita membandingkan keduanya? Artkel ini akan menguraikan agak rinci beberapa sisi teknologi GSM dan CDMA, semata-mata untuk menambah wawasan pembaca terhadap teknologi yang sehari-hari kita pakai ini.

Selama ini kita mengenal GSM sebagai singkatan dari Global System for Mobile Communication dan CDMA adalah Code Division Multiple Access. Kita juga sudah tahu bahwa pemain (operator) besar GSM adalah Indosat, Telkomsel, dan XL sementara pemain CDMA adalah Telkom Flexi, StarOne, dan Esia. Sebenarnya, mana yang lebih baik antara teknologi CDMA dan GSM?

Sebuah pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab. Kalau kita menganut semboyan pemenangnya adalah suara terbanyak, dapat kita lihat Tabel 1 yang dikutip dari Wireless Intelligence. Data tersebut mencakup data hingga kuartal ke-3 tahun 2005, jadi masih cukup up-to-date. Semua teknologi telpon (baik nirkabel maupun telpon kabel) dan banyaknya pengguna dapat dilihat pada tabel tersebut. Dari tabel 1 terlihat bahwa dari semua pemakai telpon di dunia ini yang berjumlah 2 miliar lebih, sekitar 2/3-nya (sejumlah 1,5 miliar lebih) menggunakan GSM. Pemakai CDMA hanya 63 juta orang. Memang masih ada variasi lain dari CDMA dan GSM (misalnya CDMA 1x EV-DO dan TDMA), tetapi tambahan angkanya juga tidak banyak mempengaruhi.

Kalau Anda ingin tahu dari pengguna telpon GSM yang mencapai 1,5 miliar lebih itu tersebar ke belahan bumi mana saja, silahkan lihat Tabel 2. Dalam tabel tersebut terlihat bahwa pemakai GSM sebagian besar ada di Asia (sebanyak 37,4%) dan Eropa (39,2%). Di Amerika dan Kanada, bahkan sangat sedikit, karena kurang dari 4%.

Hal ini tidak mengherankan, karena memang Amerika Serikat dan Kanada menggunakan teknologi CDMA untuk layanan telpon seluler mereka. Mereka pasti punya alasan yang kuat untuk memilih teknologi tersebut. Di Asia sendiri, dua negara kuatnya, Jepang dan Korea, tidak menggunakan GSM! Jangan heran bila Anda berwisata ke Jepang dan membeli ponsel di sana, tidak akan dapat dipakai di Indonesia. (Anehnya, kedua negara tersebut sangat sukses memasarkan ponsel GSM ke negara lain.) Kedua negara maju Asia ini pasti juga punya alasan mengapa tidak suka kepada GSM.

Sekarang mari kita lihat teknologi apa saja yang dimiliki masing-masing teknologi ponsel tersebut, meskipun sebenarnya tidak tepat dan memang tidak mudah memisahkan keduanya. Ada baiknya kita lihat juga sejarah perkembangan telpon -khususnya telpon seluler-di dunia ini. Anda pasti pernah mendengar teknologi 3G (dibaca ‘tri-ji’, singkatan dari third generation, atau generasi ketiga teknologi telpon seluler).

Teknologi ponsel dimulai dari 0G, 1G, 2G, 3G, dan tahun 2006 ini akan muncul teknologi 4G. Sekarang kita masih banyak menggunakan teknologi 2G.

Teknologi 0G diluncurkan pada tahun 1971 di Finlandia, yang menjadi negara pertama menjual teknologi telpon mobil (berasal dari kata mobile yang artinya ‘bergerak’. Telpon mobil bentuknya seperti pesawat komunikasi yang digunakan para tentara di medan perang. Ada kotak sebesar kopor dan pesawat telpon seperti handset untuk telpon rumah.

Hampir 10 tahun kemudian, teknologi 1G (first generation atau generasi pertama) yang mulai tanpa kabel atau nirkabel (dan sudah disebut seluler) mulai diproduksi dan dijual di beberapa negara Eropa, misalnya negara-negara Skandinavia, Rusia, Perancis, Italia, dan Jerman. Teknologi ini sering disebut teknologi NMT (Nordic Mobile Telephone), karena memang dirancang oleh negara-negara Eropa sebelah utara (hingga sekarang pun produsen ponsel terbesar di dunia masih mereka pegang). Pada teknologi 1G ini, juga mulai dikenalkan sistem AMPS di Amerika Serikat.

Juga dalam kurun waktu hampir 10 tahun, menjelang tahun 1990an, muncullah teknologi 2G (second generation atau generasi kedua). Perbedaan utama dengan teknologi 1G adalah teknologi 2G sudah menggunakan sistem digital, sedang 1G masih analog. Dengan sistem analog, pembicaraan seseorang dapat disadap dengan mudah. Pada waktu telpon AMPS mulai dipasarkan di Indonesia dulu, pembicaraan dengan telpon AMPS dapat disadap dengan pesawat radio komunikasi (rig). Dengan teknologi 2G yang sudah digital, penyadapan seperti ini tidak dimungkinkan lagi.

Teknologi 2G dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu TDMA (time division multiple access) dan CDMA (code division multiple access). TDMA sendiri berkembang ke dalam beberapa versi, yaitu GSM di Eropa, IDEN di Amerika, PDC di Jepang. Sedangkan CDMA berkembang pesat di AS dan Kanada. Kemampuan mencolok teknologi 2G adalah tidak hanya dapat digunakan untuk telpon, tetapi juga untuk SMS.

Teknologi 2G ada perbaikan cukup signifikan, sehingga muncullah variannya, yaitu 2.5G dan 2.75G. Varian ini tidak dibuat oleh konsorsium, tetapi sebagai strategi pemasaran oleh beberapa pabrik ponsel. Ciri khas teknologi 2.5G (generasi dua setengah) adalah teknologi GPRS (global package radio service) yang dapat digunakan untuk berkirim data dalam jumlah besar, tidak seperti SMS yang hanya dapat mengirim dan menerima alfanumerik saja.

Generasi 2.5G ini ada juga yang menamakannya dengan generasi 2.75G, karena lebih dekat dengan teknologi 3G. Teknologi 2.5G (atau 2.75G) ini, di sistem GSM disebut sistem EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) sedang pada sistem CDMA disebut dengan CDMA 2000 1x. Keduanya memiliki kecepatan transfer data mendekati 144KB/detik.

Teknologi 2G inilah yang hari ini banyak kita gunakan, meskipun kita sudah sesekali mendengar kalau operator ponsel di Indonesia sudah menguji coba sistem 3G. Kemampuan yang dimiliki oleh generasi 3G adalah kecepatan transfer datanya yang sangat tinggi dan dalam jumlah banyak, sehingga bahkan dapat digunakan untuk aplikasi telepon video. Beberapa merek ponsel juga sudah mengeluarkan ponsel yang diberi label “3G ready”. Saat ini, teknologi ini masih terhitung mahal, sehingga belum begitu mendapat sambutan dari pasar.

Meskipun di berbagai belahan dunia teknologi 3G belum berhasil, lain halnya di Korea Selatan dan Jepang, yang telah sedemikian maju teknologi ponselnya. Mereka sudah memiliki ponsel seukuran kartu kredit yang juga dapat digunakan untuk melihat televisi satelit. Gambarnya sudah barang tentu sangat jernih dan suaranya yahud, tidak seperti video streaming yang sering kita lihat di televisi kita untuk memantau arus lalu lintas di beberapa kota besar dan gambarnya terlihat tidak halus dan terputus-putus. Di Jepang, saat ini pengguna teknologi 2G sudah menyusut sebesar 40% dan diperkirakan tahun 2006 nanti akan semakin habis.

Teknologi 4G saat ini sudah mulai dikembangkan di beberapa negara pioner ponsel. Mereka menjanjikan kapasitas transfer data hingga sebesar 100MB/detik. Kalau janji para pembuatnya terpenuhi, kita dapat mengirim data atau film DVD hanya dalam waktu 40 detik saja (tidak sampai satu menit!).

Sebagai perbandingan, kecepatan tertinggi teknologi 2G yang kita pakai sekarang ini adalah 144KB/detik, meskipun dalam kenyataannya kita sudah beruntung kalau dapat menggunakan 5KB/ detik saja dalam mentransfer data!

Perkembangan ke dalam beberapa generasi di atas diatur oleh ITU (International Telecommunication Union) yang berkedudukan di Jenewa, Swiss. ITU bertugas mengatur penggunaan frekuensi dan teknik komunikasi di seluruh dunia. ITU didirikan pada 17 Mei 1865 di Paris dan merupakan badan di bawah naungan PBB

Konsep GSM

Konsep GSM

GSM ( GLOBAL SYSTEM FOR MOBILE COMMUNICATION ),Sebelum GSM, di Indonesia telah ada 2 jenis telepon selular analog, yaitu AMPS (Advances Mobile Phone System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone). Jenis telepon selular digital lainnya yang akan segera dioperasikan di Indonesia adalah DAMPS (Digital AMPS). Tulisan ini mengupas latar belakang, teknologi dan perkembangan GSM

STKB selular sistem analog yang beroperasi di Eropa bersifat sangat regional, di mana masing-masing negara mengoperasikan sistem yang berbeda dan tidak kompatibel satu dengan yang lain. Di Jerman dan Portugal beroperasi sistem C-NET yang dikembangkan oleh Siemens, di Perancis beroperasi sistem RC-2000, di Belandan dan negara Skandinavia beroperasi sistem NMT yang dikembangkan Ericson, sedangkan di Inggris Raya beroperasi sistem TACS.

Masing-masing sistem dikembangkan dengan teknologi yang berbeda, sehingga tidak ada kompatibilitas satu dengan yang lain. Akibatnya setiap sistem hanya dapat dioperasikan di wilayah negara yang tertentu. Kondisi ini sangat tidak menunjang kegiatan mobilitas masyarakat negara Eropa yang sering berada di negara lain, baik untuk tujuan bisnis maupun wisata. Ditambah lagi dengan rencana terbentuknya European Community, kondisi tersebut sama sekali tidak dapat dipertahankan.

Pengembangan masing-masing sistem analog yang beroperasi hanya nasional disebabkan adanya orientasi interest yang berbeda bagi masing-masing pengelola, yakni PTT. Akibatnya, pemasaran terbatas hanya satu negara dan tidak dapat mendapatkan jumlah pelanggan yang cukup besar. Tetap diperlukan dukungan infrastruktur yang lengkap dan mahal, sehingga konsekuensinya adalah timbulnya harga jual yang mahal serta biaya pemakaian yang cukup tinggi. Oleh sebab itu pemakai selular terbatas hanya mereka yang benar-benar mampu dan memerlukan, bukan sebagai sarana telekomunikasi yang mencapai segenap lapisan masyarakat.

Atas dasar pemikiran tersebut dan tanpa menguntungkan salah satu sistem yang telah beroperasi serta untuk menciptakan sistem yang jauh lebih baik dari yang sudah ada, maka Perancis (France Telecom) dan Jerman (Bundespost) sepakat untuk memelopori munculnya teknologi digital selular yang kemudian dikenal dengan nama GSM, dengan didukung oleh industri telekomunikasi di kedua negara tersebut.

Melalui pengkajian yang sangat mendalam, akhirnya ETSI (European Telecommunication Standard Institute) dapat menerima GSM sebagai standar Eropa.

Pada pertengahan tahun 1991, jaringan GSM muncul untuk pertama kalinya, dimana salah satu pelopornya adalah Deutsche Bundespost melalui anak perusahaannya Detecom siap untuk mengoperasikan GSM pada 1 Juli 1991, yang dikenal dengan nama D1 Network.

Diperkirakan dengan munculnya standarisasi GSM, sistem lain yang beroperasi di Eropa perlahan-lahan hilang. Ini berarti hilangnya sebagian besar pasar sistem non GSM. Hal tersebut mempengaruhi minat industri untuk mengembangkan teknologi sistem lama yang ada (CNET, RC 2000, NMT, TACS).


Pengembangan GSM

Dalam konferensi WARC (World Administrative Radio Conference) tahun 1979, ditetapkan bahwa frekwensi 860 Mhz - 960 Mhz dialokasikan untuk komunikasi selular di kemudian hari. Dengan penetapan ini berarti band frekuensi selebar 2 x 25 Mhz khusus disiapkan untuk sistem selular digital.
Tahun 1982, dengan dipelopori oleh Jerman dan Perancis, maka CEPT (Conference Europeance d'Administration de Post et Telecommunication) menetapkan GSM sebagai standar digital selular untuk Eropa. Dan tahun 1985, Jerman, Perancis, Itali dan Inggris bersatu untuk mengembangkan standarisasi GSM. Tahun 1987 di tanda tangani Memorandum of Understanding pemakaian GSM oleh 14 negara Eropa.

Target pembangunan GSM :

Tahun 1991 adalah permulaan pengoperasian jaringan GSM
Tahun 1993 meliputi semua kota besar
Tahun 1995 mencapai semua jalan raya antar kota.
Di dalam kenyataannya, banyak terjadi hambatan dalam penerapan GSM, sehingga target operasional GSM tidak terpenuhi. Walaupun semua infrastruktur telah siap sejak pertengahan 1991, namun realisasi pengoperasian secara komersil baru dapat dimulai kuartal terakhir 1992.
Situasi ini menunjukkan bahwa GSM merupakan teknologi yang sangat kompleks dan memerlukan pengkajian cukup lama untuk mencapai kesepakatan standar. Disamping itu GSM menjadi ajang perebutan pengaruh dan kompetisi baik dari masing-masing operator di tiap negara, maupun industri telekomunikasi yang memproduksi GSM. Keuntungan bisnis yang besar akan diperoleh pihak yang berhasil memasukkan usulan standarnya. Tidak heran apabila standar type approval untuk hand phone baru dapat disepakati pada September 1992, karena harus mempertimbangkan dan memasukkan puluhan item pengujian dalam memproduksi sistem GSM.

Walaupun standarisasi GSM baru saja terselesaikan dan pengoperasiannya baru saja dimulai, bahkan belum merata ke seluruh Eropa, namun dengan mengantisipasi perkembangan GSM yang sangat pesat serta tingkat kepadatan pelayanan per area yang tinggi, maka arah perkembangan teknologi GSM adalah DCS 1800, yakni Digital Celular System pada alokasi frekwensi 1.800 MHz. Dengan frekwensi tersebut, akan dicapai kapasitas pelanggan yang semakin besar per satuan sel. Di samping itu, dengan luas sel yang semakin kecil akan dapat menurunkan kekuatan daya pancar hand phone, sehingga bahaya radiasi yang timbul terhadap organ kepala, sebagaimana dikhawatirkan pada akhir-akhir ini, akan dapat dieliminasi.

Jaringan GSM
Alokasi frekwensi :
Transmit : 935 MHz - 960 MHz
Receive : 890 MHz - 915 MHz
Modulasi : TDMA (Time Division Multiple Access)
Caarier spacing : 200 KHz untuk 8 kanal

Jaringan GSM selular, terdiri atas :
MSC (Mobile Switching Center), sebagai switching system
BSS (Base Station Subsystem), sebagai pengirim dan penerima sinyal radio dari dan ke pelanggan
OS (Out Station), sebagai terminal pelanggan yang bersifat bergerak.
Keistimewaan dari GSM yang tidak terdapat pada sistem analog maupun pada American Digital Cellular (ADC) adalah adanya standardisasi interface antar masing-masing sub sistem. Dengan demikian, GSM menjanjikan suatu sistem yang tidak harus dimonopoli oleh satu merek. Dalam arti bahwa Switching, Base Station, dan Out Station dapat berasal dari merek/pemasok yang berbeda. Kondisi ini jelas sangat menguntungkan pihak operator, karena tidak ada ketergantungan sama sekali terhadap satu supplier.
Ketidaktergantungan kepada satu pemasok tersebut memungkinkan karena adanya standardisasi yang jelas :

A Interface, antara MSC dengan BSS
A Bis Interface, antara BSC dengan BTS
Um Interface, antara BSS dengan Out Station.
Standardisasi A-bis Interface belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga sampai saat ini BSS secara lengkap pada umumnya dipasok dari satu mere.
Standardisasi A Interface dan Um Interface terbukti telah berhasil dengan baik. Jaringan D1 / Detecon merupakan kombinasi dari MSC dari Siemens dan BSS dari Philips, D2 / Mannesman merupakan kombinasi dari MSC SEL dan BSS dari Alcatel (Walaupun sekarang SEL dalam group Alcatel, namun subsistem MSC dan subsistem BSS berasal dari industri yang berbeda).

Karena fungsinya yang sangat kompleks, maka MSC dilengkapi dengan :

-Home Location Register (HLR) untuk menyimpan data permanen dari semua pelanggan.
-Visitor Location Register (VLR) untuk menyimpan data pelanggan yang bersifat temporer disesuaikan dengan area tempat pelanggan berada.
-Authentication Register (AuC) untuk keperluan pemeriksaan validasi pelanggan.
-Equipment Identity Register (EIR) untuk menyimpan nomer identitas pelanggan.
-Mobile Switching Center (MSS)
MSC merupakan inti dari jaringan selular, dimana MSC berperan untuk inter koneksi hubungan pembicaraan, baik antar pelanggan selularr maupun antar selular dengan jaringan telepon kabel PSTN, ataupun dengan jaringan data.
MSC memberikan pelayanan kepada pelanggan meliputi :

*Bearer Services :

3,1 KHz telephony
Synchronous data 0,3 Kbit/s - 2,4 Kbit/s
PAD Services
Alternated speech/data
*Teleservices :
Telephony
Emergency calls
Telefax
Short message services
*Supplementary services :
Call forwading
Charging services
Call bearing services
Closed user group


Home Location Register (HLR)

HLR berfungsi untuk penyimpan semua data dan informas mengenai pelanggan yang tersimpan secara permanen, dalam arti tidak tergantung pada posisi pelanggan. HLR bertindak sebagai pusat inforamsi pelanggan yang setiap waktu akan diperlukan oleh VLR untuk merealisasi terjadinya komunikasi pembicaraan. VLR selalu berhubungan dengan HLR dan memberikan informasi posisi pelanggan berada.


Visitor Location Register (VLR)

VLR berfungsi untuk menyimpan data dan informasi pelanggan, dimulai pada saat pelanggan memasuki suatu area yang bernaung dalam wilayah MSC VLR tersebut (melakukan Roaming). Adanya informasi mengenai pelanggan dalam VLR memungkinkan MSC untuk melakukan hubungan baik Incoming (panggilan masu) maupun Outgoing (panggilan keluar).
VLR bertindak sebagai data base pelanggan yang bersifat dinamis, karena selalu berubah setiap waktu, menyesuaikan dengan pelanggan yang memasuki atau berpindah naungan MSC. Data yang tersimpan dalam VLR secara otomatis akan selalu berubah mengikuti pergerakan pelanggan. Dengan demikian akan dapat dimonitor secara terus menerus posisi dari pelanggan, dan hal ini akan memungkinkan MSC untuk melakukan interkoneksi pembicaraan dengan pelanggan lain. VLR selalu berhubungan secara intensif dengan HLR yang berfungsi sebagai sumber data pelanggan.


Authentication Center (AuC)

AuC menyimpan semua informasi yang diperlukan untuk memeriksa keabsahan pelanggan, sehingga usaha untuk mencoba mengadakan hubungan pembicaraan bagi pelanggan yang tidak sah dapat dihindarkan. Disamping itu AuC berfungsi untuk menghindarkan adanya pihak ke tiga yang secara tidak sah mencoba untuk menyadap pembicaraan.
Dengan fasilitas ini,maka kerugian yang dialami pelanggan sistem selular analog saat ini akibat banyaknya usaha memparalel, tidak mungkin terjadi lagi pada GSM. Sebelum proses penyambungan switching dilaksanakan sistem akan memeriksa terlebih dahulu, apakah pelanggan yang akan mengadakan pembicaraan adalah pelanggan yang sah.

AuC menyimpan informasi mengenai authentication dan chipering key.Karenae fungsinya yang mengharuskan sangat khusus, authentication mempunyai algoritma yang spesifik, disertai prosedur chipering yang berbeda untuk masing-masing pelanggan. Kondisi ini menyebabkan AuC memerlukan kapasitas memory yang sangat besar. Wajar apabila GSM memerlukan kapasitas memory sangat besar pula.

Karena fungsinya yang sangat penting, maka operator selular harus dapat menjaga keamanannya agar tidak dapat diakses oleh personil yang tidak berkepentingan. Personil yang mengoperasikan dilengkapi dengan chipcard dan juga password identitas dirinya.


Equipment Identity Register (EIR)

EIR memuat data-data peralatan pelanggan yang dibagi atas 3 (tiga) kategori, yakni :
Peralatan yang diijinkan untuk mengadakan hubungan pembicaraan kemanapun.
Peralatan yang dibatasi dan hanya diijinkan mengadakan hubungan pembicaraan ketujuan yang terbatas.
Peralatan yang sama sekali tidak diijinkan untuk berkomunikasi.
Kebaradaan EIR belum distandardisasi secara penuh, oleh karena itu belum dioperasikan di semua operator Eropa. Masih diperlukan klasifikasi di Eropa dan penyempurnaan yang berkaitan dengan aspek hukum.
Base Station Subsystem (BSS)
Base Transceiver Station (BTS)
BTS berfungsi sebagai interkoneksi antara infra struktur sistem selular dengan Out Station.BTS harus selalu memonitor Out Station yang masuk ataupun yang keluar dari sel BTS tersebut. Luas jangkauan dari BTS sangat dipengaruhi oleh lingkungan, antara lain topografi dan gedung tinggi.BTS sanga berperan dalam menjaga kualitas GSM, terutamaa dalam hal frekwensi hoping dan antena diversity.

Base Station Controller (BSC)
Pada umumnya setiap BSS terdiri atas beberapa Base Transceiver Station, dengan masing-masing BTS mempunyai area yang berbeda.Namun demikian selalu ada area yang over lapping, sehingga kontinuitas komunikasi Out Station dengan infrastruktur selular tetap terjaga.
BSC sangat diperlukan untuk mengaur perpindahan Out Station dari satu BTS ke BTS lainnya.Perpindahan area ditentukan dari beda kekuatan sinyal antara 2 (dua) BTS Oper Lapping.Fungsi BSC :

Interfacing antara BSC-MSC, BSC-BTS dan BSC-OMC
Alokasi kanal BSC-BTS
Indikasi channel blocking antara BSC-MSC
Pengaturan frekwensi hoping
Pengaturan konfigurasi kanal
Pengaturan enkripsi
Proses Handover
Pengaturan broadcasting channel

Penutup
Dengan telah disepakatinya GSM sebagai satu-satunya sistem selular di Eropa, maka sistem analog yang ada secara perlahan dan pasti akan hilang dari peredaran. Di samping itu telah banyak negara di luar Eropa, bahkan beberapa negara di Asia telah menetapkan untuk menerapkan sistem GSM, termasuk Indonesia.
Tingkat pemasaran GSM sangat tinggi.Sebagai contoh adalah Jerman, pada bulan Agustus 1992, jumlah pelanggan baru mencapai 20.000 unit.Pada Januari 1993 pelanggan GSm telah mencapai 200.000 unit.Pertambahan per bulan minimal mencapai angka 20.000 unit.

GSM memberikan banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem analog yang ada :

-Dapat melakukan International Roaming
-Tidak terpaku kepada satu pemasok, sehingga tidak terjadi monopoli
-Validitas pelanggan diperiksa sebelum hubungan pembicaraan terlaksana
-Dengan fasilitas frekwensi hoping, tidak ada pihak ke tiga yang secara tidak sah dapat ikut mendengarkan pembicaraan.
-Kualitas suara yang lebih baik dan lebih peka.
-Kapasitas pelanggan yanglebih besar.
-Features pelanggan yang lebih beragam, paging, facsimile, dan ISDN




Tuesday, June 5, 2007

WiMAX VS 3G

Belakangan ini teknologi WiMAX telah menjadi primadona perbincangan dan diskusi baik diantara vendor maupun operator telekomunikasi dunia. Dengan kemampuan yang lebih dibanding teknologi BWA (Brodband Wireless Access) sebelumnya WiMAX menjadi salah satu penantang 3G (sistem seluler generasi ke-3) untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan akses kecepatan tinggi.

Dengan munculya WiMAX secara otomatis akan menimbulkan persaingan antara pengusung WiMAX dengan vendor pengusung 3G. Masing-masing saling berlomba menunjukkan kebolehan dan keunggulan baik yang terkait dengan teknologi, layanan, investasi (nilai ekonomis) maupun dalam kemudahan penggunaan dan pemeliharaannya. Seperti diketahui telah banyak negara yang mengimplementasikan teknologi 3G (Indonesia masih trial) namun untuk WiMAX masih dalam proses sertifikasi. Kalaupun ada yang mengimplementasikan masih menggunakan teknologi pre WiMAX.

Banyak faktor penentu untuk suksesnya implementasi suatu teknologi. Dengan demikian sangat perlu diperhatikan tentunya bagi operator yang akan mengoperasikan teknologi WiMAX atau 3G. Artikel berikut merupakan sekilas uraian perbandingan antara teknologi WiMAX dan teknologi 3G. Tentunya dalam proses evaluasi yang lebih tajam diperlukan adanya kajian yang lebih mendalam menyangkut aspek teknis maupun aspek ekonomis. Selain itu perlu dibedakan antara kajian untuk operator incumbent maupun bagi operator baru.


Teknologi 3G

Layanan 3G merupakan layanan komunikasi bergerak yang menjanjikan peningkatan bandwidth hingga 384 Kbps ketika diakses dalam keadaan berjalan (nomadic), sementara untuk di kendaraan bergerak kecepatannya sekitar 128 KBps dan sampai 2 MBps bila dalam kondisi diam. Teknologi yang bisa digunakan untuk memberikan layanan 3G bisa berbasis GSM (W-CDMA) atau CDMA (CDMA2000). Namun karena dari awal teknologi di 2G-nya didominasi oleh sistem GSM maka untuk 3G-nya saat ini juga masih banyak berkembang dari teknologi W-CDMA. Diantara kedua teknologi 3G dimaksud juga saling berkompetisi antara yang berbasis GSM dan CDMA.

Gambar berikut mendeskripsikan evolusi teknologi seluler (GSM & CDMA) menuju ke 3G.










Gambar 1. Evolusi Sistem Seluler ke 3G


Teknologi WiMAX

Sementara itu WiMAX merupakan teknologi yang sangat baru. Bahkan pengujian perangkat dari beberapa vendor untuk mendapat sertifikat ”WiMAX” baru dimulai sekitar bulan Agustus 2005. Untuk standar WiMAX mobile (IEEE 802.16e) baru disahkan sekitar pertengahan tahun 2006. Sementaa itu WiMAX yang akan berkembang saat ini masih comply ke standar IEEE 802.16-2004 yang diaplikasikan untuk solusi fixed.
Sedangkan di teknologi WiMAX diawali dengan standar 802.16 kemudian diperbaharui ke 802.16 (REVd) dan dikembangkan ke untuk melayani pelanggan mobile (802.16e). Tabel berikut menerangkan berbagai standar evolusi di WiMAX.

Tabel 1. Perkembangan Standar WiMAX











Produk Life Cycle

Seperti biasa pada implementasi sebuah teknologi atau produk maka mata rantai dari life cycle produk dimaksud akan melalui 4 tahapan yaitu product development, introduction to market, Mature Market dan product phase-out.
Perbedaan antara WiMAX dan 3G saat ini adalah bahwa untuk WiMAX tahapannya baru memasuki product development dan sedang introduction to market. Sedangkan 3G sedang mengalami 2 tahapan yaitu introduction to market dan mature market (untuk beberapa negara).

Untuk fase product phase-out tentunya masih belum diketahui, perlu dilakukan kajian lebih mendalam terkait dengan waktu (berapa tahun) kedua teknologi tersebut mampu bertahan.

Gambar berikut mendeskripsikan produk Life Cycle antara teknologi WiMAX dan 3G.



















Gambar 2. Life Cycle WiMAX & 3G


Layanan

Bila dilihat dari sisi layanan (speed) yang bisa diberikan, maka WiMAX mampu melampaui 3G. Tabel berikut diambil dari CSBF research yang menggambarkan perbandingan berbagai teknologi ke depan termasuk 3G dan WiMAX.

Tabel 2. Perbandingan Data rate (speed) antara 3G & WiMAX











Dengan demikian keunggulan WiMAX adalah terlihat dari sisi kecepatannya. Dengan demikian secara otomatis akan banyak memberikan layanan yang menarik dibanding 3G.
Namun bila difokuskan pada kemampuan mobility-nya, 3G masih unggul dibanding WiMAX. Apalagi saat ini (tahun 2005) WiMAX baru difokuskan untuk pelanggan fixed dan baru tahun 2006 mulai difokuskan untuk pelanggan bergerak (nomadic).

Gambaran perbandingan tingkat mobilitas antara WiMAX dan 3G dapat dilihat seperti terlampir di bawah :












Gambar 3. Mobility antara 3G vs WiMAX

Menurut deskripsi di atas, maka WiMAX sangat cocok untuk kondisi low mobility namun high bandwidth. Sedangkan 3G diperuntukkan untuk high mobility dengan data rate yang rendah.
Disamping perbedaan di atas dari awal teknologi seluler termasuk 3G adalah diperuntukkan untuk pelanggan personal. Lain dengan teknologi WiMAX yang pada awalnya diimplementasikan untuk backhaul maupun akses broadband. Ke depan setelah mengikuti standar 802.16 e WiMAX baru cocok untuk aplikasi mobile (nomadic).

Bagaimana di Indonesia ?

Khusus di Indonesia ke dua teknologi baik WiMAX maupun 3G masih belum ditetapkan frekuensinya dan operator yang berhak siapa dan dapat berapa MHz. Kasus penerapan 3G diperkirakan masih menunggu waktu yang cukup lama. Operator lama yang baru melakukan trial adalah Telkomsel dan Indosat sedangkan operator baru yang telah memegang lisensi 3G adalah Natrindo dan Cyber Access Communication (CAC). Sementara di WiMAX sendiri dari regulasi baru menginformasikan kemungkinan penerapannya di kisaran band 2,3 GHz; 3,5 GHz; dan 5,8 GHz. Frekuensi persis dan nama operatornya belum ditentukan.

Kesimpulan dan Saran
- WiMAX sangat cocok digunakan untuk pelanggan dengan tingkat mobilitas yang rendah namun kebutuhan bandwidthnya tinggi.
- 3G fokus pada pelanggan dengan tingkat kebutuhan mobilitas tinggi sedangkan kebutuhan bandwidthnya lebih rendah.
- Dari sisi time to market 3G mendahului dibanding dengan WiMAX.
- Dalam perkembanganya 3G dikembangkan untuk pelanggan personal sedangkan WiMAX awalnya dikembangkan untuk bachaul, akses, baru ke personal.
- Perlu segera ketetapan dari pemerintah berkaitan dengan frekuensi WiMAX dan 3G.

artikel diambil dari : Gunadi Dwi Hantoro, Penulis adalah Engineer di Lab Wireless TELKOMRisTI. Saat ini penulis sedang melakukan kajian dan riset teknologi WiMAX.


Sistem pendukung standar WiMAX : Sistem Antena Adaptif

Sistem antena ini kadang2 juga disebut sebagi Smart Antenna. Kenapa disebut smart, karena antena ini bisa secara cerdas menghasilkan beam atau arah radiasi yang sesuai ke arah user (MS) yang diinginkan serta menghilangkan sinyal-sinyal interferer.


Sistem antena adaptif terdiri dariyang namanya array antenna, atau susunan antena. Dari namanya aja keliatan kalo sistem ini terdiri dari lebih dari satu buah elemen antena. Kemudian masing-masing elemen akan dicatu oleh catuan independen dengan amplitude dan fasa yang berbeda2, sehingga dari hasil "penjumlahan" sinyal radiasi masing2 elemen, dihasilkan pola beam yang diinginkan. Yaitu mengarah ke MS tujuan.

Amplitude dan fasa yang berubah2 sesuai lingkunagn dapat dimungkinkan berkat adanya DSP yang menyertai sistem antena ini (makanya disebut smart). Nantinya pada DSP akan ditanamkan algoritma pembobotan (weighting) yang akan menentukan amplitude dan fasa masing2 elemen antena tadi. Algoritma yang gw tau seperti LMS-CMA, eigenbeamforming...trus banyak lagi ...

Sistem ini jelas berbeda dengan antena directional biasa yang hanya menghasilkan pola pancar ke arah sesuai desainnya. Gak bisa berubah2 sesuai kondisi lapangan. Sedangkan pada sistem adaptif, pola pancar berubah2 tergantung kondisi lingkungan.

Tentu saja dengan kemampuan seperti ini, WiMAX dapat menghandle lebih banyak user dari pada sistem antena biasa..

802.16d itu nantinya akan digunakan untuk broadband fixed wireless access (mobilitas terbatas kayak flexy gitu...) kalo 802.16e aplikasinya buat yang mobile BWA

Karena keduanya mendukung mobilitas, maka kondisi NLOS merupakan suatu konsekuensi dari mobilitas tersebut. So...teknologi2 diatas ada di standar 802.16d ato 802.16e.

untuk WiMAX, ntar ada dua jenis BS yang diproduksi, yaitu standar BS dan full featured BS. Kalo standar BS punya kemampuan yang bersifar mandatory (ya...biasa aj..) dengan batasan keluaran RF (Radio Frequency) power yang telah ditentukan. Sedangkan full featured BS sudah dilengkapi dengan kemampuan opsional tadi... kayak Tx/Rx diversity, sub channelization, ama ARQ.

mengenai mungkin ato nggaknya menggunakan metode modulasi & tipe antena yang sama dg fix? (maksudnya yang mobile..?)
justru... skema modulasi adaptif itu di ciptakan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kondisi lingkungan yang berubah-ubah (yang di wakili dengan nilai SNR) karena mobilitas user. So buat yang mobile skema modulasi adaptif ini merupakan faktor perbaikan yang kudu di pasang.

kalo masalah antenanya...gw pikir modulasi yang digunakan apa aj nggak ngaruh ama antena yang di gunain...kan udah beda level...
Yang beda cuman di level mod/demod aja..

sampai sekarang telkomsel pun belom memakai WiMAX, cuman di BS memang benar kalau telkomsel sudah memakai produk NOKIA yang bisa langsung upgrade ke WiMAX, tinggal nambah modul tersendiri aja...

alokasi pita frekuensi eksisting di Indo yang sudah di alokasikan buat layanan BWA (sesuai dengan rekomendasi WiMAX forum :

- pita frekuensi 2.0 GHz (2050 - 2070 MHz)
- pita frekuensi 2.4 GHz (2400 - 2483.5 MHz)
- pita frekuensi 2.5 GHz (2500 - 2520 MHz ama 2670 - 2690MHz)
- pita frekuensi 3.3 GHz (3300 - 3400 MHz)
- pita frekuensi 3.5 GHz (3400 - 3700 MHz)
- pita frekuensi 5.8 GHz (5725 - 5825 MHz)
- pita frekuensi 10.5 GHz (10150 - 10300 MHz ama 10500 - 10650 MHz)


> spektrum 2.5 GHz:
pada pita frekuensi 2500-2690 MHz masih teknologi microwave link lama di beberapa lokasi tertentu, sejak tahun 1980an (Rec. ITU-R F.283). Sedangkan pita frekuensi 2520-2670 MHz digunakan untuk sistem komunikasi satelit penyiaran digital oleh Indovision kalo ga salah..(cakupan Nasional sejak 1997). Tahun 2001 telah dialokasikan untuk beberapa penyelenggara BWA di pita frekuensi 2500 - 2520 MHz dan 2670-2690 MHz. BW yang di alokasikan sebesar 2x20 MHz dengan lebar kanal 6 MHz.
oh ya ga lupa spektrum IMT 2000 juga memiliki pita tambahan di daerah spektrum ini...

> spektrum 3.5 GHz:
tahun 2000, 3.5 GHz ini ditetapkan untuk layanan BWA dan sharing frekuensi dengan satelit. Di kota-kota, BWA diberlakukan status skunder, sedangkan di non perkotaan berstatus primer. Ijin sejumlah penyelenggara BWA diberikan pada alokasi 3410-3497.5 MHz dan 3510-3597.5 MHz (FDD). Penyelenggara satelit, yang masih menggunakan ext.C band sampai sekarang adlaah Telkom, PSN ama AceS. teru karena ada keluhan dari para operator satelit tentang gangguan interferensi, maka di sepakati melalui forum koordinasi antar operator BWS dan Satelit bahwa BWA hanya dapat menggunakan 5 kanal, dari semula direncakan 25 kanal, status primer dan sekunder masih tetap diberlakukan.

> spektrum 5.8 GHz
Pita frekuensi 5.8 GHz (5725 - 5825 MHz) di Indo masi bersifat licensed, dan pada 2001 telah diberikan kepada sejumlah penyelenggara BWA sebanyak 5 kanal dengan lebar per kanal 15 MHz. Teknologi yang digunakan adalah spread spectrum dengan teknik TDD, dan penggunaannya dilakukan secara bersama (sharing)...ada Kep dirjen yang ngatur...
pada frekuensi 5.8 GHz juga merupakan salahs atu pita frekuensi Wi-Fi di beberapa negara.

melihat kondisi itu semua tergantung kita mau make frekuensi yang mana...
kalo di Indo, rencananya mau pake 3.5 GHz untuk tahap awal implementasi di Indo.
karena test interoperability oleh WiMAX forum dilakukan pada frekuensi 3.5 GHz. Secara komersil, produksi penerapan WiMAX akan dimulai dari frekuensi ini.


Standart 802.16d biasanya digunakan untuk rural area.
Sedangkan di Urban memakai standart 802.16e yang mobilitasnya tinggi.

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access)

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah tanda sertifikasi untuk produk-produk yang lulus tes cocok dan sesuai dengan standar IEEE 802.16. WiMAX merupakan teknologi nirkabel yang menyediakan hubungan jalur lebar dalam jarak jauh.

Yang membedakan WiMAX dengan Wi-Fi adalah standar teknis yang bergabung di dalamnya. Jika WiFi menggabungkan standar IEEE 802.11 dengan ETSI (European Telecommunications Standards Intitute) HiperLAN sebagai standar teknis yang cocok untuk keperluan WLAN, sedangkan WiMAX merupakan penggabungan antara standar IEEE 802.16 dengan standar ETSI HiperMAN.

Standar keluaran IEEE banyak digunakan secara luas di daerah asalnya, Amerika, sedangkan standar keluaran ETSI meluas penggunaannya di daerah Eropa dan sekitarnya. Untuk membuat teknologi ini dapat digunakan secara global, maka diciptakanlah WiMAX. Kedua standar yang disatukan ini merupakan standar teknis yang memiliki spesifikasi yang sangat cocok untuk menyediakan koneksi berjenis broadband lewat media wireless atau BWA.


Tinjauan teknologi

WiMax adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan standar dan implementasi yang mampu beroperasi berdasarkan jaringan nirkabel IEEE 802.16, seperti WiFi yang beroperasi berdasarkan standar Wireless LAN IEEE802.11. Namun, dalam implementasinya WiMax sangat berbeda dengan WiFi.

Pada WiFi, sebagaimana OSI Layer, adalah standar pada lapis kedua, dimana Media Access Control (MAC) menggunakan metode akses kompetisi, yaitu dimana beberapa terminal secara bersamaan memperebutkan akses. Sedangkan MAC pada WiMax menggunakan metode akses yang berbasis algoritma penjadualan (scheduling algorithm). Dengan metode akses kompetisi, maka layanan seperti Voice over IP atau IPTV yang tergantung kepada Kualitas Layanan (Quality of Service) yang stabil menjadi kurang baik. Sedangkan pada WiMax, dimana digunakan algoritma penjadualan, maka bila setelah sebuah terminal mendapat garansi untuk memperoleh sejumlah sumber daya (seperti timeslot), maka jaringan nirkabel akan terus memberikan sumber daya ini selama terminal membutuhkannya.

Standar WiMax pada awalnya dirancang untuk rentang frekuensi 10 s.d. 66 GHz. 802.16a, diperbaharui pada 2004 menjadi 802.16-2004 (dikenal juga dengan 802.16d) menambahkan rentang frekuensi 2 s.d. 11 GHz dalam spesifikasi. 802.16d dikenal juga dengan fixed WiMax, diperbaharui lagi menjadi 802.16e pada tahun 2005 (yang dikenal dengan mobile WiMax) dan menggunakan orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) yang lebih memiliki skalabilitas dibandingkan dengan standar 802.16d yang menggunakan OFDM 256 sub-carriers. Penggunaan OFDM yang baru ini memberikan keuntungan dalam hal cakupang, instalasi, konsumsi daya, penggunaan frekuensi dan efisiensi pita frekuensi. WiMax yang menggunakan standar 802.16e memiliki kemampuan hand over atau hand off, sebagaimana layaknya pada komunikasi selular.

Banyaknya institusi yang tertarik atas standar 802.16d dan .16e karena standar ini menggunakan frekuensi yang lebih rendah sehingga lebih baik terhadap redaman dan dengan demikian memiliki daya penetrasi yang lebih baik di dalam gedung. Pada saat ini, sudah ada jaringan yang secara komersial menggunakan perangkat WiMax bersertifikasi sesuai dengan standar 802.162.

Spesifikasi WiMax membawa perbaikan atas keterbatasan-keterbatasan standar WiFi dengan memberikan lebar pita yang lebih besar dan enkripsi yang lebih bagus. Standar WiMax memberikan koneksi tanpa memerlukan Line of Sight (LOS) dalam situasi tertentu. Propagasi Non LOS memerlukan standar .16d atau revisi 16.e, karena diperlukan frekuensi yang lebih rendah. Juga, perlu digunakan sinyal muli-jalur (multi-path signals), sebagaimana standar 802.16n.


Keuntungan

Banyak keuntungan yang didapatkan dari terciptanya standardisasi industri ini. Para operator telekomunikasi dapat menghemat investasi perangkat, karena kemampuan WiMAX dapat melayani pelanggannya dengan area yang lebih luas dan tingkat kompatibilitas lebih tinggi. Selain itu, pasarnya juga lebih meluas karena WiMAX dapat mengisi celah broadband yang selama ini tidak terjangkau oleh teknologi Cable dan DSL (Digital Subscriber Line).

WiMAX salah satu teknologi memudahkan mereka mendapatkan koneksi Internet yang berkualitas dan melakukan aktivitas. Sementara media wireless selama ini sudah terkenal sebagai media yang paling ekonomis dalam mendapatkan koneksi Internet.

Area coverage-nya sejauh 50 km maksimal dan kemampuannya menghantarkan data dengan transfer rate yang tinggi dalam jarak jauh, sehingga memberikan kontribusi sangat besar bagi keberadaan wireless MAN dan dapat menutup semua celah broadband yang ada saat ini. Dari segi kondisi saat proses komunikasinya, teknologi WiMAX dapat melayani para subscriber, baik yang berada dalam posisi Line Of Sight (posisi perangkat-perangkat yang ingin berkomunikasi masih berada dalam jarak pandang yang lurus dan bebas dari penghalang apa pun di depannya) dengan BTS maupun yang tidak memungkinkan untuk itu (Non-Line Of Sight). Jadi di mana pun para penggunanya berada, selama masih masuk dalam area coverage sebuah BTS (Base Transceiver Stations), mereka mungkin masih dapat menikmati koneksi yang dihantarkan oleh BTS tersebut.
Selain itu, dapat melayani baik para pengguna dengan antena tetap (fixed wireless) misalnya di gedung-gedung perkantoran, rumah tinggal, toko-toko, dan sebagainya, maupun yang sering berpindah-pindah tempat atau perangkat mobile lainnya. Mereka bisa merasakan nikmatnya ber-Internet broadband lewat media ini. Sementara range spektrum frekuensi yang tergolong lebar, maka para pengguna tetap dapat terkoneksi dengan BTS selama mereka berada dalam range frekuensi operasi dari BTS.

Sistem kerja MAC-nya (Media Access Control) yang ada pada Data Link Layer adalah connection oriented, sehingga memungkinkan penggunanya melakukan komunikasi berbentuk video dan suara. Siapa yang tidak mau, ber-Internet murah, mudah, dan nyaman dengan kualitas broadband tanpa harus repot-repot. Anda tinggal memasang PCI card yang kompatibel dengan standar WiMAX, atau tinggal membeli PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association) yang telah mendukung komunikasi dengan WiMAX. Atau mungkin Anda tinggal membeli antena portabel dengan interface ethernet yang bisa dibawa ke mana-mana untuk mendapatkan koneksi Internet dari BTS untuk fixed wireless.
Semua itu mungkin-mungkin saja dengan adanya teknologi WiMAX. Namun tampaknya, Anda harus bersabar sebentar karena teknologi ini masih membutuhkan waktu untuk dapat tersedia di Indonesia.

Konsep WIMAX

WiMAX

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) di cetuskan oleh WiMAX Forum yang di bentuk pada April 2001, untuk mempromosikan interoperabilitas dan penyesuaian standar IEEE 802.16, yang secara resmi bernama WirelessMAN. Forum ini mendefinisikan WiMAX sebagai “sebuah standar teknologi yang dapat memungkinkan penyampaian akses wireless broadband jarak jauh sebagai alternatif dari kabel dan DSL.”


Standar untuk teknologi WiMAX memakai frekuensi antara 10 gigahertz dan 66 gigahertz. Selain itu, ia juga memakai frekuensi antara 2 gigahertz dan 11 gigahertz. Ini berarti WiMAX mencakup frekuensi 2,4 gigahertz yang di negara tertentu merupakan frekuensi bebas lisensi.

"WiMAX is not a technology, but rather a certification mark, or 'stamp of approval' given to equipment that meets certain conformity and interoperability tests for the IEEE 802.16 family of standards. A similar confusion surrounds the term Wi-Fi (Wireless Fidelity), which like WiMAX, is a certification mark for equipment based on a different set of IEEE standards from the 802.11 working group for wireless local area networks (WLAN). Neither WiMAX, nor Wi-Fi is a technology but their names have been adopted in popular usage to denote the technologies behind them. This is likely due to the difficulty of using terms like 'IEEE 802.16' in common speech and writing." – OECD[1]


Technical overview

WiMAX adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan standar interoperabilitas implementasi dari jaringan wireless IEEE 802.16, agak mirip dengan cara Wi-Fi yang menjadi interoperabilitas implementasi standar WirelessLAN IEEE 802.11. Tetapi WiMAX sangatlah berbeda dari Wi-Fi dalam cara kerjanya.
Pada Wi-Fi, Medium Access Controller ("MAC") menggunakan contention access, yaitu semua terminal pelanggan yang ingin melewatkan data melalui wireless access point (“AP”) harus berkompetisi untuk mendapatkan perhatian AP dalam basis interrupt yang acak. Hal ini dapat menyebabkan node-node yang berada pada jarak yang jauh dari AP terinteruppt secara berulang-ulang oleh node-node yang lebih dekat, sehingga menurunkan throughput sistem. Oleh karena itu layanan seperti VoIP (Voice over IP) atau IPTV yang membutuhkan QoS tertentu sulit untuk di layani dalam jumlah user yang besar.

Sedangkan 802.16, MAC menggunakan scheduling algorithm, dimana terminal-terminal pelanggan harus berkompetisi sekali saja yaitu pada saat pertama kali memasuki jaringan. Setelah itu setiap pelanggan dialokasikan sebuah time-slot oleh base station. Time-slot ini dapat membesar dan mengecil (sesuai kebutuhan pelanggan), tetapi tetap untuk setiap terminal pelanggan, yang berarti pelanggan lain tidak bisa menggunakannya. Scheduling algorithm ini stabil dalam kondisi overload dan over subscription (tidak seperti 802.11). IEEE 802.16 juga dapat lebih efisien dalam penggunaan Bandwidth. Scheduling Algorithm juga memungkinkan base station untuk mengontrol parameter-parameter QoS dengan menyeimbangkan pemesanan timeslot antara aplikasi yang di butuhkan oleh terminal pelanggan.

Pada awalnya standar IEEE 802.16 menspesifikasikan WiMAX pada rentang frekuensi 10 sampai 66 GHz. Kemudian pada tahun 2004 802.16a di update menjadi 802.16-2004 (juga biasa di sebut 802.16d), yaitu dengan menambahkan dukungan untuk rentang frekuensi 2 sampai 11 GHz. 802.16d kemudian di update lagi menjadi 802.16e pada tahun 2005. 802.16e menggunakan scalable OFDM (orthogonal frequency division multiple access) sebagai pengganti versi non scalable pada 16d. Hal ini membawa potensi manfaat dalam masalah coverage, self installation, power consumption, frequency re-use dan efisiensi bandwidth. 16e juga menambahkan kemampuan layanan mobilitas penuh.
Standar yang paling menarik perhatian adalah 802.16d dan 802.16e, karena pada standar tersebut menggunakan frekuensi yang lebih rendah sehingga sinyal lebih tahan terhadap pelemahan (attenuation), juga meningkatkan jangkauan dan kemampuan penetrasi gedung.

Spesifikasi WiMAX memperbaiki keterbatasan-keterbatasan standar Wi-Fi dengan menyediakan bandwidth dan jangkauan yang lebih lebar, serta enkripsi yang lebih kuat. WiMAX mendukung konektivitas antara jaringan endpoint tanpa membutuhkan jalur Line Of Sight (“LOS”) pada kondisi lingkungan yang mendukung. Pada aplikasi Non-LOS membutuhkan 16d. dan varian 16e. karena frekuensi yang dibutuhkan lebih rendah. Hal ini bergantung pada sinyal multipath yang ada.


Uses for WiMAX

Konsep yang salah kaprah ada yang menyebutkan bahwa WiMAX dapat mentransmisikan data 70 Mbps, dengan jarak 70 mil, pada kecepetan lebih dari 70 mph. Konsep diatas mumgkin dapat dibenarkan secara terpisah pada kondisi lingkungan yang ideal, namun ketiganya tidak bisa di penuhi secara simultan. WiMAX memiliki beberapa kesamaan dengan DSL, dimana DSL dapat memiliki bandwidth yang tinggi atau jarak yang jauh, tetapi keduanya tidak bisa dipenuhi secara bersama-sama. Kesamaan lainnya adalah pada WiMAX bandwidth di bagi berdasarkan pelanggan yang berada pada sector radio, jadi ada banyak pelanggan yang aktif di dalam satu sector, sehingga tiap pelanggan akan mendapatkan bandwidth yang lebih kecil.
Bandwidth dan jangkauan WiMAX membuatnya cocok untuk beberapa potensi aplikasi di bawah ini:
• Menghubungkan hotspot-hotspot Wi-Fi antar satu dengan yang lain, dan menghubungkannya dengan bagian (jaringan) lain dari Internet.
• Menyediakan alternatif jaringan wireless selain kabel dan DSL untuk akses broadband jarak jauh
• Mendukung layanan mobile data berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi (4G)
Broadband Access
Banyak perusahaan kabel dan telepon tradisional (PSTN) akhir-akhir ini secara aktif mencoba potensi WiMAX untuk konektivitas jarak jauh. Hal ini dapat menghasilkan harga yang lebih kompetitif untuk pelanggan rumah maupun pelanggan corporate. Dalam area yang tidak memiliki jaringan kabel telelpon existing, WiMAX dapat memungkinkan akses jaringan broadband yang sampai saat ini belum ada. Untuk pelanggan rumah, sudah di siapkan layanan yang dapat mendukung line telepon dan koneksi internet yang mudah di install.


Mobile applications

Potensi WiMAX untuk menggunakan jaringan mobile yang existing sangatlah besar, sebab antena WiMAX dapat “berbagi” satu buah tower sel tanpa mengganggu antena seluler yang sudah ada. Beberapa perusahaan (operator) seluler menilai WiMAX sebagai salah satu cara meningkatkan bandwidth untuk variasi layanan data dan aplikasi, bahkan Sprint/Nextel telah mengumumkan pada pertengahan 2006 akan menginvestasikan US$ 3 milliar untuk pengembangan teknologi WiMAX dalam beberapa tahun ke depan. Hal tersebut berhubungan dengan kemampuan teknologi WiMAX dalam mendukung bandwidth yang tinggi (“backhaul”) untuk trafik internet dan seluler dari remote area ke sebuah internet backbone. Walaupun efektivitas biaya WiMAX dalam aplikasi remote area akan lebih tinggi, namun hal ini tidak terbatas pada aplikasi tersebut saja, bahkan dimungkinkan akan dapat mengurangi biaya E1/T1 backhaul. Keterbatasan infrastruktur kabel pada beberapa negara berkembang dapat diatasi dengan WiMAX, karena biaya untuk menginstal sebuah stasiun WiMAX pada tower seluler eksisting atau bahkan dengan tower sendiri nampaknya lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya pembangunan kabel. WiMAX sangat cocok di terapkan paad area yang memiliki kepadatan populasi rendah dan permukaan yang datar. Untuk negara-negara yang tidak mempunyai infrastruktur kabel karena mahalnya biaya dan kondisi geografi yang tidak menguntungkan, WiMAX dapat menjadi solusi infrastruktur yang murah, decentralized, mudah dibangun, dan efektif.

Spectrum Allocations for WiMAX
Spesifikasi 802.16 menggunakan spectrum RF yang sangat lebar. Tetapi, spesifikasi tersebut tidak sama dengan ijin yang di berikan pada tiap Negara. Tidak ada lisensi spectrum WiMAX yang berlaku secara global. Di Amerika, segmen yang tersedia paling besar adalah di sekitar 2.5 GHz, dan sudah dimiliki oleh Sprint Nextel. Di belahan bumi lain, band frekuensi yang paling banyak digunakan adalah sekitar 3.5 GHz, 2.3/2.5 GHz, dengan 2.3/2.5 GHz yang paling banyak digunakan di asia.
Sebenarnya di Amerika Serikat ada kemungkinan untuk menerapkan WiMAX pada Band 700MHz, tetapi ternyata band tersebut sudah di gunakan untuk TV analog, dan menunggu untuk digunakan juga oleh digital TV (sekitar tahun 2009). Pada beberapa kasus, mungkin akan ada beberapa pihak yang akan menggunakan band tersebut jjika memang band tersebut belum digunakan.

Sepertinya akan lahir beberapa varian dari 802.16, bergantung pada kondisi regulasi lokal dan spectrum berapa yang akan digunakan, tetapi walau apapun yang terjadi standar radio frekuensi yang mendasari adalah sama. Peralatan WiMAX mungkin tidak akan seportable spesifikasi yang telah ditentukan, bahkan jika dibandingkan dengan Wi-Fi yang memiliki kanal pada spectrum yang tidak memiliki lisensi dan tidak terikat regulasi.
Alokasi spektrum radio saat ini-pun sepertinya berubah-ubah. Alokasi yang sekarang ini biasa dilakukan adalah 5MHz atau 7MHz per kanal. Secara teori semakin lebar alokasi kanal radio yang di berikan, maka semakin tinggi bandwidth trafik yang dapat didukung WiMAX.

Standards
Standar 802.16 yang paling baru adalah IEEE Std 802.16e-2005 [1], disetujui pada bulan December 2005. sebelumnya telah distandarisasi IEEE Std 802.16-2004 [2]. Yang menggantikan IEEE Std 802.16-2001, 802.16c-2002, dan 802.16a-2003.
IEEE Std 802.16-2004 (802.16d) di gunakan untuk fixed system saja. Sedangkan 802.16e menambahkan komponen mobilitas pada standarnya.

IEEE 802.16e
IEEE 802.16-2005 (secara resmi di namakan Mobile WiMAX, namun masih sering dikenal sebagai 802.16e) memberikan perbaikan pada skema modulasi yang digunakan pada fixed WiMAX. Hal ini membuat WiMAX dapat digunakan untuk aplikasi fixed wireless maupun mobile Non-LOS, terutama dengan menambahkan teknik OFDMA.
SOFDMA (Scalable OFDM) adalah perbaikan atas OFDM256 untuk aplikasi NLOS dengan :
• Memperbaiki coverage NLOS dengan menggunakan skema advanced antenna diversity, dan hybrid-Automatic Retransmission Request (hARQ)
• Meningkatkan gain (penguatan) sistem dengan menggunakan denser sub-channelization, sehingga meningkatkan penetrasi indoor.
• Memerkenalkan teknik pengkodean dengan kinierja yang tinggi seperti Turbo Coding, dan Low Density Parity Check (LDPC), sehingga meningkatkan keamanan dan kinerja NLOS.
• Memperkenalkan downlink sub-channelization, sehingga memungkinkan administrator jaringan untuk mengatur coverage dan kapasitas
• Memperbaiki coverage dengan memperkenalkan Adaptive Antenna Systems (AAS) dan Teknologi Multiple Input Multiple Output (MIMO)
• Mengurangi ketergantungan bandwidth kanal pada sub carrier-spacing, sehingga memungkinkan kinerja yang sama walaupun dengan spasi carrier yang berbeda-beda (1.25 MHz sampa14 MHz).
• Memperbaiki algoritma Fast Fourier Transform (FFT) sehingga dapat mentolerir delay spread yang lebih besar, dan meningkatkan ketahanan terhadap multipath interference.
SOFDMA dan OFDMA 256 tidaklah saling kompatibel sehingga sebagian besar peralatan harus diganti. Tetapi, beberapa manufaktur berencana untuk menyediakan jalur migrasi untuk peralatan yang lebih tua sehingga kompatibel dengan SOFDMA, yang akan mempermudah transisi pada jaringan yang sudah menggunakan investasi OFDMA256.
Similar technologies
WiMAX adalah kerangka kerja untuk pengembangan teknologi wireless yang memandang jauh ke depan. Lebih baru lagi 3GPP 4G seluler, 802.22 Cognitive Radio RAN (Rural Area Network), dan 802.20, High Speed Mobile Broadband Wireless Access (MBWA) Working Group, telah beralih untuk menggunakan sistem yang sama, yaitu multi-channel scalable OFDM, HARQ, FEC, MIMO-AAS dan teknologi pelengkap lainnya yang berasal dari WiMAX.

UMTS
Untuk beberapa aplikasi, UMTS dapat menjadi saingan WiMAX. UMTS sudah dikembangkan di eropa dan sebagian besar operator seluler di negara-negara lain. Teknologi HSDPA memungkinkan transmisi data pada kanal downlink sampai 8-10 Mbps. UMTS juga mendukung kanal sirkuit yang di opimasi untuk trafik suara dan video. Pada Juli 2005 alokasi frekuensi untuk WiMAX di eropa telah di blok oleh prancis dan finlandia yang merupakan negara manufaktur yang telah berinvestasi besar pada teknologi UMTS.
Aktivitas standarisasi 3GPP yang paling baru adalah lebih mengembangkan advanced system yang berbasis OFDM (daripada CDMA). Platform 3G Long Term Evolution (LTE) akan berbasis pada MIMO-OFDM, yang sistemnya sama dengan WiMAX / 802.16e-2005.
EV-DO
Evolution data Optimized adalah standar wireless broadband radio yang di kembangkan oleh penyedia layanan telepon seluler CDMA di seluruh dunia. Di standarisasi oleh 3GPP2, sebagai bagian dari keluarga standar CDMA.
HIPERMAN
Di eropa standar yang sama dengan 802.16 adalah HIPERMAN. WiMAX forum sedang bekerja untuk memastikan interoperabilitas 802.16 dan HIPERMAN.
WiBro
Industri telekomunikasi korea sudah mengembangkan standarnya sendiri: WiBro. Pada akhir 2004, Intel dan LG Electronics telah menyetujui interoperabilits antara Wibro dan WiMAX.
WiBro didukung penuh oleh pemerintah Korea Selatan, dengan tiap carrier menghabiskan lebih dari US$1 miliar untuk pengembangan. Korea melihat bahwa pengembangan WiBro dapat digunakan sebagai sistem 3.5 - 4G regional alternatif. Tetapi karena kurangnya perkembangan yang dihasilkan, WiBro akhirnya bergabung dengan WiMAX dan setuju untuk menyesuaikan dengan dengan standar OFDM 802.16e. WiBro rencananya akan digulirkan pada April 2006, sebab dilakukannya test performansi WiMAX adalah sifatnya yang mobile sehingga dinilai baik untuk penyampaian layanan wireless broadband. Korea adalah pasar yang sangat mengagumkan, dimana pengguna banyak menggunakan layanan multimedia. WiBro bukan hanya sebagai solusi jaringan telekomunikasi di rural area, namun juga akan tumbuh menyaingi 3G dan layanan kabel kecepatan tinggi di lingkungan urban.


Wi-Fi

Wi-Fi adalah teknologi Wireless LAN (WLAN) yang bekerja pada spektrum yang tidak memiliki lisensi (2.4 GHz dan 5GHz). Wi-Fi murah dan mudah untuk digunakan sebagai solusi konektivitas dengan kecepatan tinggi. WiMAX menggunakan spetrum yang lebih lebar dibanding Wi-Fi. Jika di terapkan bersama WiMAX dan Wi-Fi cenderung akan bersifat saling melengkapi.



Pada sistem komunikasi wireless telah umum dikenal kondisi LOS dan NLOS. Hal ini berkaitan dengan daerah pancar antara BS (Base Station) dan SS (Subscriber Station) yang lebih dikenal dengan Fresnel Zone clearence (fresnel zone bergantung pada frekuensi kerja dan jarak antara BS dan SS

Pada kondisi LOS, antara pengirim dan penerima tembus pandang secara langsung tanpa ada rintangan (first fresnel zone). Apabila kriteria ini tidak terpenuhi, maka penerimaan sintal akan menurun secara drastis.

Pada kondisi NLOS, sinyal yang sampai pada penerima telah melalui pemantulan (reflections), pemencaran (scattering), dan pembiasan (diffractions). Sinyal yang akan diterima merupakan gabungan dari direct path, multiple reflected paths, scattered energy, dan diffracted propagation paths. Kondisi multipath ini akan memberikan perbedaan polarisasi, redaman, delay pancaran, dan ketidakstabilan dibandingkan dengan sinyal yang diterima secara langsung melalui direct path.

Kemampuan NLOS pada WiMAX ditunjang oleh penerapan ebberapa inovasi teknologi antara lain:
- teknologi OFDM dan sub-kanalisasi (Sub-Channelization)
- antena direksional (directional antenna)
- diversitas pada transmitter dan receiver (transmit and receive diversity)
- modulasi adaptif (adaptive modulation) dan teknik error coretion techniques
- pengendalian daya (power control)

OFDM merupakan teknologi yang terbukti dapat digunakan untuk mengatasi berbagai macam permasalahan propagasi (multipath), termasuk kondisi NLOS antara BS dan SS. OFDM juga dapat mengatasi permasalah delay spread dan inter symbol interference (ISI). Sinyal OFDM dibentuk oleh beberapa sinyal sempit yang dipancarkan secara paralel untuk setiap informasi yang dikirim.
SUb kanalisasi diterapkan pada sinyal uplink dari SS dan bersifat optional pada sitem WiMAXff. Fasilitas ini secara konsep mengurangi pengiriman jumlah carrier dari SS tetapi dikompensasi dengan power level dari pengiriman. Tanpa menggunakan sub-channelization, sistem yang direncakan akan menjadi asimetris atau iplink limited. Tetapi pada umumnya justru membuat CPE menjadi cost effective.

Directional antenna bertujuan untk meningkatkan fade margin dengan penambahan penguatan (Gain) dibandingkan dengan antenna omni-directional. Bahkan dapat menurunkan delaya pancar, baik di BS maupun di SS, karena pola pancar antena ini dapat menekan sinyal-sinyal multipath yang direima di sisi samping (sidelobe) dan dari belakang (backlobe)...hayah istilah antena lg Penggunaan directional antenna untuk kondisi NLOS sudah terbukti sangat efektif dan sudah banyak digunakan oleh para operator. Inovasi lain untuk mengatasi kondis NLOS yang digunakan sebagai optional apda standar WiMAX adalah Adaptive Antenna System (AAS)--> bukan SAA lho.. Antena ini memberikan pengarahan yang lebih fokus, seperti soptlight, baik pada saat memancarkan sinyal maupun sebagai penerima. AAS digunakan untuk mengingkatkan spectrum reuse dan kapasitas jaringan WiMAX karena mempunyai karekteristik yang dapat menekan interferensi co-channel.

Transmit and Receive diversity digunakan untuk memanfaatkan sinyal-sinyal multipath dan sinyal pantul yang terjadi pada kondisi NLOS. Diversitas juga menjadi fasilitas optional pada standar WiMAX. 7annya adalah untuk meningkatkan availability penerimaan dan pengiriman dari sistem yang dibangun. Transmit diversity menggunakan space time coding untuk memancarkan sinyal secara terpisah. Teknik ini dapat menekan kebutuhan fade margin dan juga megatasi interferensi. Pada receive diversity, beberapa teknik kombinasi diterapkan seperti misalnya maximum ratio combining (MRC...yang uda ngambil KomBer...pasi uda pada kenal., yaitu memanfaatkan dua atau lebih penerimaan untuk mengatasi fading dan menekan pathloss.

Adaptive modulation, secara efektif dapat mengatur keseimbangan kebutuhan bandwidth dan kualitas sambungan (link quality) atau biasanya diukur dengna Signal to Noise Ratio (SNR). APabila kualitas sinyal cukup baik, maka digunakan modulasi yang lebih tinggi untuk memberikan kepasitas bandwidth yang lebih besar. Apabila kualitas link menurun (kalo kata carok turun medun...jiakakakak) sistem modulasinya digeser menjadi lebih rendah untuk menjaga kestabilan dan kualitas sambungan. Perpindahan modulasi dapat diatur secara dinamis dari 64-QAM (SNR=22dB), 16-QAM(SNR=16dB), QPSK(SNR=9dB), dan BPSK(SNR=6dB).

Error correction techniques diterapkan pada sistem WiMAX untuk menurunkan kebutuhan minimum SNR dan meningkatkan throughput. Beberapa teknik coding yang digunakan adalah Reed Solomon Forward Error Correction (FEC), convolutional encoding, dan interleaving algorithms. Kemampuan Automatic Repeat Request (ARQ) digunakan untuk mengoreksi error yang tidak bisa dikoreksi oleh FEC. Teknik ini cukup berarti dalam meningkatkan performansi bit error rate (BER) pada batas level penerimaan yang sama.

Power control algoritms digunakan untuk meningkatkan performansi sistem secara berkala secara keseluruhan. BS mengirimkan informsi power control kepada semua SS untuk pengaturan level power transmit sedemikian rupa sehingga level sinyal yang diterima BS sama dengan level referensi yang telah ditentukan sebelumnya. Pengaturan ini dimaksudkan agar SS dapat secara dinamis memancarkan daya sesuai kondisi fading sehingga konsumsi power bisa lebih efisien.


nb:
berdasarkan beberapa kemampuan opsional diatas, terdapat dua jenis BS yang diproduksi, yaitu standar BS dan full featured BS. Kalo standar BS punya kemampuan yang bersifar mandatory (ya...biasa aj..) dengan batasan keluaran RF (Radio Frequency) power yang telah ditentukan. Sedangkan full featured BS sudah dilengkapi dengan kemampuan opsional tadi... kayak Tx/Rx diversity, sub channelization, ama ARQ.